Silaturahim Saudara Sepertulisan


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

”Assalamualaikum…..!”

Ucapan salam itu lumayan membuat saya terperanjat. Saya langsung menyambar baju, kampes, dan celana panjang. Rencana sunah Rasul terpaksa saya tunda dulu. Hiks.

”Walaikumsalam….!”

Rupanya, suara itu milik Pak Yasin, sohib sepertulisan saya. Dia datang bersama istri dan empat anaknya.

Seingat saya, dia baru saja mengikuti prakongres Ikatan Guru Indonesia (IGI) di Martapura. ”Pokoknya saya nggak mau menggantikan posisi Pak Nanang di IGI, Bro,” ucap saya membuka perbincangan.

Ente ngomong opo? Yang mau milih dirimu itu siapa?” hardiknya. Pak Yasin memberikan bungkusan putih. Saya membukanya. Isinya sambel pecel Bu Hera dan gethuk pisang. ”Apaaaa??? Oleh-oleh khas dari Martapura hanya gethuk? Yang bener aja!” saya tidak terima.

Emosi Pak Yasin langsung meledak. ”Aku dari Magetan, makanya kubawakan ini. Tunjukkan rasa terima kasihmu,” hardiknya lagi. Bu Yasin dan nyonya saya tiba-tiba mendelik ke kami berdua. Sebagai anggota kehormatan Istikomah (Ikatan Suami Takut Istri Kalo di Rumah), saya dan Pak Yasin langsung berpelukan setelah menerima kode itu meski masing-masing masih menyimpan rasa jengkel.

”Pokoknya, aku sudah bertekad untuk mengundurkan dari IGI. Saya ingin menikmati hari tua saya saat ini,” ucap saya. ”Sampean itu ngomong apa? Pengurus saja bukan, kok mau mengundurkan diri,” ujar Pak Yasin. Kalimatnya kali ini sangat menyakitkan. Untungnya, Bu Yasin segera mendelik lagi sehingga suasana cair kembali.

Yang lebih gayeng adalah obrolan antara nyonya saya dan Bu Yasin. Kebetulan nyonya saya adalah anggota IGI. Dia masih menginginkan Pak Satria sebagai ketua umum IGI, Pak Ihsan sebagai sekjen, dan Pak Nanang di dewan pembina. Nyonya yakin bahwa IGI akan kehilangan rohnya jika tiga orang atau salah satu di antara ketiganya tidak ada.

Saya sependapat dengan nyonya. Sebab, menurut saya, jikalau ketiganya jadi imam shalat wajib, bacaan suratnya tidak akan panjang-panjang dan menikmati lagu-lagu bacaannya yang tartil nan indah itu. Tidak akan ”menyiksa” jamaahnya yang kepanasan di luar masjid dan rela terpanggang sinar surya.

Saya kemudian memberikan kultum kepada nyonya, Pak Yasin, dan Bu Yasin. ”Kita tidak boleh begitu. Regenerasi dalam organisasi itu adalah keniscayaan dan harus! Kita harus memahami Pak Satria, Pak Ihsan, dan Pak Nanang. Ketiganya punya cita-cita luhur saat mendirikan IGI. Jadi, saya yakin bahwa ketiganya tidak akan berhenti berjuang meski menyatakan akan pensiun dari IGI,” nasihat saya.

Saya mengutip kalimat dari film Spiderman pertama (2002) bahwa di dalam tugas yang diemban terdapat tanggung jawab yang besar. Saya lantas mengajak semua yang ada di ruang tamu saya tersebut untuk membaca doa buat kemajuan dunia pendidikan di Indonesia dan perjuangan Kemendikbud yang akan melakukan revolusi pink besar-besaran pada 2015.

Pak Yasin tiba-tiba mukanya sembab. Mbrebes mili. Kami pun berpelukan dan saling meminta maaf. Saya pun ikut menangis. Bukan karena sedih akan ditinggal para petinggi IGI, melainkan karena dicubit nyonya. Ia kesal karena ritsleting saya ternyata masih terbuka. Gara-gara gagal sunah Rasul!

Sidoarjo, 26 Desember 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Desember 27, 2014, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: