Mengeluhkan Pengisian Rapor K-13


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Pekan-pekan sebelum pengisian rapor murid-muridnya, nyonya saya sangat sibuk. Dia kebetulan wali kelas 2 SD yang sekolahnya menerapkan kurikulum 2013. ”Ribet,” komentarnya pendek saat saya tanyai pendapatnya tentang sistem pengisian rapor K-13.

Kesibukannya bertambah tinggi menjelang pembagian rapor. Hampir semua guru dan wali kelas di sekolahnya mengeluhkan kerumitan pengisian rapor tersebut. Salah satunya disebabkan nilai yang berupa deskripsi dalam rapor baru. Tidak ada angka.

Misalnya, poin 90-100 tergolong kategori A atau yang berarti sangat baik. Untuk nilai 70-80, kategorinya B atau baik. Kalau D, artinya pembelajarannya tidak tuntas.

Nah, pusingnya tuh di sini. Yaitu, pengisian tiap kompetensi dasar (KD) yang berbeda-beda. Untuk matematika, KD-nya ada lima. Sementara mapel bahasa Indonesia memiliki enam KD. Setiap KD ada deskripsinya masing-masing.

Uniknya, rapor ala kurikulum 2013 ini hanya mengeluarkan nilai pada KD yang dianggap sangat baik dan tidak tuntas. Banyak guru yang rela lembur untuk merampungkan pengisian nilai rapor yang mereka anggap ”menyiksa” batin dan fisik tersebut.

Nyonya saya berkali-kali mengeluhkan betapa repotnya musim rapor kali ini. Ia sempat menunjukkan contoh pengisian rapor itu di laptopnya. Setelah melihatnya, saya manggut-manggut. Pusing.

Ketika pembagian rapor tiba, saya minta izin untuk ikut nyonya ke sekolah. Saya ingin tahu reaksi para wali murid. Benar dugaan saya, banyak wali murid yang bingung dengan gaya penilaian dalam rapor anyar itu. Bahkan, ada seorang ibu yang melontarkan protes.

Dalam suasana tegang tersebut, tiba-tiba seorang bapak menghampiri saya. Ia mengira saya wali murid. Demikian pula saya, mengira beliau wali murid.

Ia lantas bertanya tentang rapor itu. ”Kepala sekolah di sini payah, Pak. Tidak bisa mengakomodasi suara gurunya. Mengapa dia tidak berani menyuarakan bahwa banyak guru di sini yang memprotes dan mengeluhkan kurikulum baru,” ucap saya pendek. Ia hanya manggut-manggut.

Tak lama kemudian, nyonya menemui saya. ”Mas, tadi kepala sekolahku tanya apa?” tuturnya. Glek!

Sidoarjo, 24 Desember 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Desember 24, 2014, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: