Kerupuk Rajungan


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Disadari atau tidak, budaya kita terancam disorientasi. Kekacauan orientasi nilai (apa yang dihayati sebagai sesuatu yang berharga dalam hidup) ini menyeruak dalam beberapa gejala.

Tokoh sosialis Karl Marx menyebutnya materialisasi. Maksudnya, masyarakat modern cenderung mengabaikan persoalan identitas kultur sosial tradisionalnya demi keuntungan atau kapitalisme semata.

Kita melihat ini mulai terjadi. Tengok saja keberadaan minimarket seperti Indomaret, Alfamidi, Alfa Ekspres, dan Alfamaret yang bak jamur di musim hujan. Alhasil, pasar-pasar becek yang dahulu menjadi favorit kaum ibu serta identitas kultural yang membentuk komunitas tradisional kini mulai terpinggirkan.

Gejala lainnya ialah cerlang budaya seperti kuliner lokal dipaksa terus bersaing dengan kehadiran produk-produk makanan dan minuman asal luar. Makanan tradisional seperti koci-koci dan mbote bakar (semacam tanaman bentoel) nyaris ”punah” di kalangan generasi muda sekarang. Mereka kebanyakan lebih dekat dengan produk-produk kuliner cepat saji ala luar negeri yang justru digolongkan sebagai ”makanan sampah” (junk food).

Karena itu, kita berutang budi kepada Umar Kayam, Zoetmolder, Driyarkara, ataupun Denys Lombart. Budayawan-budayawan dan Indonesianis kultural tersebut tidak lelah menyuarakan perlawanan. Ini dilakukan untuk membendung derasnya antitesis nilai-nilai baru yang mengoyak budaya tradisional seperti kuliner-kuliner nusantara yang begitu kaya. Diamput, sakjane aku iki nulis opo sih?

Maka, ketika seorang sahabat asal Madura berkunjung ke rumah dan memberikan buah tangan berupa kerupuk rajungan, ada rasa bangga dan gembira. Bangga karena kebanyakan kawan-kawan saya di Pamekasan dan Sumenep masih menjaga fanatisme terhadap kekayaan kuliner lokal. Gembira karena ia datang pada saat yang tepat, yakni ketika saya belum makan.

Rajungan adalah sejenis kepiting kecil yang dapat disantap utuh. Biasanya rajungan disajikan dalam menu rajungan bakar atau oseng-oseng. Dengan berkembangnya kreasi kuliner, rajungan dapat dimasak dalam berbagai olahan.

Bagi Anda yang tidak gemar makan kepiting, kerupuk rajungan bisa menjadi pilihan. Oleh-oleh khas Pamekasan ini terbuat dari rajungan kering yang kemudian dicampur dengan terigu dan bumbu lain seperti garam, bawang putih, bawang merah, dan lada. Olahan kerupuknya tidak menyisakan bau amis khas rajungan.

Ketika suara kresss dan kriuuuk keluar pada gigitan pertama, kita seakan-akan digiring untuk melanjutkan gigitan berikutnya dan berikutnya. Bisa jadi inilah yang menginspirasi kalimat fenomenal di jagat kuliner: ”Mung sak lher, nanging nikmate tiada tara…”

Sidoarjo, 17 Desember 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Desember 17, 2014, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: