Kopi Vietnam


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

”Mas, ini ada titipan kopi dari Bu Sirikit….” Seorang dosen perempuan muda dari Unesa merangsek ke tempat duduk saya di belakang. Ia memberikan bingkisan kecil berisi satu pak kopi sachet. Melihatnya serasa membuat saya berada di kebun kopi arabica bermutu kelas satu yang tengah ranum buahnya dan siap dipetik.

Tiba-tiba bayangan nyonya muncul di belantara imajinasi saya. Tangan saya gemetar dengan denyut jantung seperti orang yang baru saja ditelepon oleh petugas FIF yang mengabarkan bahwa cicilan sudah nunggak tiga bulan.

Saya mengenyahkan bayangan perempuan muda tadi. Mencoba fokus pada kopi pemberian tokoh pers Sirikit Syah tersebut. Di situ tidak ada kertas yang bertulisan ”Untuk ananda tercinta Must Prast”, melainkan stiker kecil yang memajang label harga $ 4.0.

Ternyata itu bukan kopi lokal, melainkan kopi asal Vietnam. Bu Sirikit memang baru saja berkunjung ke sana untuk mengikuti konferensi internasional. Ia tahu saya penggemar kopi. Ia tahu prinsip hidup saya bahwa jangan mengaku anggota PGRI jika tidak kritis terhadap iuran bulanan yang tidak jelas peruntukannya. Ia tahu moto hidup saya bahwa orang boleh pandai setinggi langit, tapi jika belum ngopi, maka bagaimana caranya mensyukuri nikmat Tuhan?

Kopi itu bermerek G7 Ca Phe Thu Thiet. Kemasannya seukuran Indocafe premium sachet. Warna hitam, kuning, dan merah begitu mendominasi bungkusannya. Bak seorang barista, saya mencoba memahami filosofi kopi G7 ini. Saat kemasannya dibuka, serbuknya sehalus pasir Lumajang. Aromanya langsung menyeruak. Masya Allah, aroma itu membawa kita berada di Surga Firdaus yang di dalamnya mengalir sungai-sungai dari madu dan susu.

Ketika menuangkan air panas ke dalam gelas bening, saya mendiamkannya sejenak, kemudian mencoba menyeruput pelan-pelan. Namun, tidak ada rasanya. Ya, tidak ada rasanya. Saya bingung, kaget, dan marah. ”Apakah Bu Sirikit mempermainkan saya? Apakah beliau setega itu?” ucap saya dalam hati penuh rasa kesal.

Kok minum air panas thok, Mas?” ujar dr Gamal yang hari itu bertamu di kediaman saya. Ternyata saya lupa mencampurnya dengan kopi G7 tadi. Sungguh saya menyesal telah berburuk sangka.

Di bungkusan kopinya hanya tertera bahasa Vietnam. Tidak ada terjemahan dalam bahasa Inggris sehingga saya sulit memahami apa saja komposisi di dalam kopi ini. Namun, ternyata rasanya tajam. Seimbang dengan aromanya yang kuat. Tidak menyiksa lambung seperti halnya beberapa kopi instan produk dalam negeri.

Saya belajar pada tokoh-tokoh dunia yang menyempatkan pagi dengan menikmati secangkir atau segelas kopi. Johann Sebastian Bach, misalnya. Ia pernah mengatakan, ”Without my morning coffee, I’m just like a dried up piece of roast goat.”

Bagi saya, kopi bukan sekadar teman di kala senggang. Menyeruputnya adalah sebentuk cara mengucap syukur atas kebesaran Ilahi. Begitu eratnya hubungan emosional kami, sampai-sampai saya tidak sanggup melepas pagi tanpa menikmati kopi.

Jika stok kopi di rumah habis, saya sama sekali tidak khawatir. Sebab, tulisan ini pasti dibaca oleh kawan-kawan, sahabat, dan para kolega. Apabila saya bersilaturahmi ke mereka, saya yakin mereka sudah tahu harus menyuguhkan apa.

Sidoarjo, 16 Desember 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Desember 16, 2014, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. jadi kapan ngopi ke Karawang mas Pras?
    saya juga pecinta kopi, bagiku kopi adalah minuman surge yang diturunkan ke bumi. Nikmat tiada tara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: