Plus Koes


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

ANGGOTA PLUS KOES: Dari kiri-kanan, Om Roy (redaktur Duta), Cak Habe (politikus), dan Must Prast. (dok. pribadi/foto: andi yasin)

ANGGOTA PLUS KOES: Dari kiri-kanan, Om Roy (redaktur Duta), Cak Habe (politikus), dan Must Prast. (dok. pribadi/foto: andi yasin)

Deru suara kendaraan besar memekikkan telinga. Minggu pagi, 14 Desember 2014, mata saya masih menyimpan kantuk. Istri saya buru-buru mengintip dari balik korden. Saya mulai curiga bercampur khawatir. Takut apabila yang datang tersebut adalah pasukan Tjakrabirawa.

”Siapa yang datang?” tanya saya sambil bergegas mengenakan pakaian dinas lapangan, yakni sarung, baju koko, dan songkok asli Malang. Nyonya tak segera menjawab. Ia maju ke depan pintu, mencoba menghadang barang alus, barang gak genah, dan barang kali (yang berwarna kuning kusam dan sering kintir di sungai).

”PDI-P itu merah, Jenderal…!” Tiba-tiba suara tersebut terdengar mengentak. Saya terkejut bukan kepalang. Ya Allah, lindungilah hamba dan keluarga hamba. Saya berupaya tetap tenang dalam situasi yang belum jelas itu.

”Kehilangan mangga itu pedih!” Kali ini suara tersebut lebih keras. Saya teringat dua mangga gadung milik saya yang hilang dari pohonnya kemarin. Badan ini menggigil tak keruan. Saya mencoba mencelat ke tembok belakang untuk bersembunyi. Malang tak dapat ditolak, Blitar tak bisa diraih. Sarung saya tersangkut. Mana saat itu sedang tidak pakai daleman. Isisnya luar biasa.

”Mas, ada tamu…!” Suara yang lembut namun tegas milik nyonya tersebut membangunkan saya dari ketiduran di kamar mandi. Saya pun buru-buru mempercepat hajat.

Ternyata hari itu ada jadwal syukuran internal dalam rangka Dies Natalis ke-50 Unesa. Disebut internal karena ini hanya reuni kecil antara anggota Plus Koes.

Plus Koes Fans Club yang dibidani Bung Yasin punya inisiatif untuk mempersatukan kembali kami yang pernah jaya di IKIP Surabaya pada era 1990-an. Ia lantas mengundang tiga pentolan band legendaris dari jurusan bahasa dan sastra Indonesia ini. Selain saya, dua lainnya adalah Om Roy dan Cak Habe. Mungkin karena saking lamanya tidak bersua, Cak Habe nyaris mencucurkan air mata melihat Om Roy yang kian mature dengan ubannya yang mengkilat diterpa sinar surya. Intinya, kami bertiga sama-sama terharu karena masing-masing kok sik pancet kumus-kumus.

Dalam reuni kecil ini, kami berfoto bersama. Mengabadikan momen yang tidak langka dan biasa-biasa saja itu. Saya lantas diberi kartu oleh Cak Habe dan Bung Arfahrani dari Pertamina Foundation. Namanya Sobat Bumi Comunity Card.

”Di kata Comunity itu, kurang 1 M,” saya mencoba mengingatkan dua aktivis ecotransport yang akan menuju Probolinggo tersebut.

”M-nya sengaja kita kasih satu dulu, Bro. Nunggu invoice…” jawab Cak Habe yang intonasinya mengindikasikan semangat dan harapan pada direktur pendidikan Pertamina Foundation.

Hari itu kami bernostalgia mengenang masa sulit saat kuliah S-1 dulu di PKL Center Gayungsari. Nomor-nomor lawas favorit kami seperti semanggi suroboyo, soto daging madura, sate klopo, dan lontong kupang pagi itu menandai kembalinya revolusi. Plus Koes is back! Plus Koes merupakan kepanjangan dari para lelaki berperasaan halus penggemar pecel Bu Koes.

Sidoarjo, 14 Desember 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Desember 15, 2014, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: