Catatan Diskusi Literasi PPG Unesa (1)


Duduk Bersama Kaum Literat

Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

KAUM LITERAT: Suasana pemberian apresiasi oleh Rektor Unesa Prof Warsono kepada para penulis senior yang juga dosen Unesa. Tampak dari kiri ke kanan, Prof Warsono, Drs Much. Khoiri MSi, Prof Lies Amin Lestari, dan Prof Luthfiyah Nurlaela. (foto: om roy)

KAUM LITERAT: Suasana pemberian apresiasi oleh Rektor Unesa Prof Warsono kepada para penulis senior yang juga dosen Unesa. Tampak dari kiri ke kanan, Prof Warsono, Drs Much. Khoiri MSi, Prof Lies Amin Lestari, dan Prof Luthfiyah Nurlaela. (foto: om roy)

Sial betul, hari-hari belakangan ini saya dipaksa membaca diskursus analisis media dengan pendekatan Foucoult hingga semiotik Ferdinand Saussure. Dengan kemampuan bahasa Inggris ala kadarnya, membaca buku terkait berbahasa Inggris yang merangkum pemikiran keduanya membuat berat badan saya turun beberapa kilogram.

Dari sini, saya mencatat dua hal sederhana namun penting. Pertama, kemajuan pemikiran yang membawa pengaruh bagi kemajuan sebuah bangsa itu tak bisa dilepaskan dari literasi. Contohnya, buku Course in General Linguistic ditulis oleh Saussure pada tahun 1916 dan sampai saat ini masih menjadi pegangan di kalangan intelektual ilmu linguistik dan komunikasi. Dari sisi ilmu komunikasi, buku ini menginspirasi para pemikir analisis tekstual.

Hal kedua, kalau ingin menurunkan berat badan secara cepat, membacalah buku yang Anda tidak pernah tertarik membaca itu sebelumnya. Inilah salah satu manfaat membaca buku yang dapat diaplikasikan bagi sebagian kaum hawa.

Bicara literasi tentu bukan hanya didominasi membaca dan menulis, tetapi juga makna fungsionalnya. Ini bukan soal hobi, minat, atau bakat belaka. Literasi itu pilar peradaban dan kemajuan.

Kiranya talk show literasi yang dihelat PPG Unesa dalam rangka dies natalis ke-50 Unesa pada 13 Desember 2014 lalu memperkuat hal tersebut. Diskusi literasi kali ini dipotret dari sisi birokrasi, budaya, dan media massa. Maka, narasumber yang didatangkan pun mewakili bidang-bidang itu. Yakni, Arini Pakistyaningsih (kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Surabaya), Budi Darma (sastrawan-budayawan), dan Nur Wahid (pemred Jawa Pos).

Budi Darma yang selalu tampil bersahaja itu menegaskan, keberadaan masyarakat literat ikut menentukan posisi sebuah bangsa di komunitas dunia. Ini hanya ungkapan halus. Sebab, secara implisit, sebenarnya guru besar Unesa tersebut ingin mengajak semua hadirin betul-betul serius dan tulus memperkuat budaya literasi sesuai profesi masing-masing.

Hal senada sebelumnya disampaikan sang tuan rumah, Prof Luthfiyah. ”Generasi muda sekarang harus melek literasi karena merekalah kelak yang akan memimpin negeri ini,” tutur direktur PPG Unesa tersebut.

Sungguh tidak rugi saya berpayah-payah hadir di forum itu. Bukan sekadar bertemu dengan kawan-kawan pegiat literasi dan sahabat dekat, namun duduk bersama kaum literat menghadirkan hawa positif. Salah satunya, jangan merasa sial jika disuruh membaca pemikiran Foucoult dan Saussure. Alamak!

Sidoarjo, 15 Desember 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Desember 15, 2014, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: