Pejabat Menye-Menye!


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Jumat siang (28/11) ada kabar bahwa direktur PPG Unesa hendak berkunjung ke rumah saya. Informasi itu datang dari Cak Yasin. ”Sing tenan, Cak?” tanya saya memastikan.

”Betul. Ini SMS beliau,” jawabnya dengan mimik serius.

”Kalau begitu, batalkan agenda ziarah ke Wali Limo,” tekan saya.

Cak Yasin muntab. Dia bilang bahwa hari itu memang tidak ada jadwal ke Wali Limo dalam agenda kami. Nyaris saja mobil yang kami tumpangi melaju tanpa kendali karena Cak Yasin nggondok.

Saya masih kaget dan belum percaya bahwa salah satu pejabat penting Unesa yang bintangnya tengah bersinar itu hendak mampir ke kediaman saya yang sederhana. Bergegas saya menghubungi Bung Fadel, tukang spanduk langganan kami.

Berkali-kali saya kontak, namun tak ada jawaban sama sekali. ”Kalau nelepon, jangan pakai sandal. Nggak ada sinyalnya,” tegur seorang pengemudi yang kebetulan berpapasan. ”Terong gosong!” umpat saya yang mulai panik. Saya ambil ponsel dan menelepon Bung Fadel.

Saya mengutarakan keinginan untuk membuat spanduk ucapan selamat datang direktur PPG Unesa. Bung Fadel tanya mau dipakai kapan. Saya jawab 10 menit lagi. Telepon mendadak ditutup dengan keras. Seperti dibanting. Saya pasrah.

Sekitar 15 menit setelah kami sampai rumah, mobil yang membawa direktur PPG Unesa dan wakilnya tiba. ”Bagaimana kondisinya?” tanya beliau. Tak tertinggal senyum khasnya yang seketika menyejukkan rumah saya. ”Siap Prof, sudah lebih baik setelah disuntik anti-inflamasi,” jawab saya.

Kami sempat membahas rencana seminar literasi di kampus PPG Unesa. Dua narasumber dari kalangan budayawan dan jurnalis sudah siap dan tidak ada masalah. Yang menyisakan kejengkelan adalah satu narasumber lainnya. Saya dengar dia adalah pejabat yang menye-menye.

Birokrasinya ribet. Dia berlagak seperti ndoro. Untuk mengundang yang bersangkutan, Pak Khoiri yang merupakan jenderalnya program IDB di Unesa dipersulit sehingga nyaris putus asa. Saya geregetan juga mendengarnya. Hampir saja saya membanting kerupuk rambak yang ada di dapur.

Saya dengar dari beberapa kawan jurnalis dan penulis, pejabat tersebut memang tak jarang bikin kesal. Korbannya adalah sohib saya, seorang pegiat literasi perempuan yang telah empat tahun membantu menghidupkan spirit literasi di institusi pejabat itu. Ia didepak.

Secara pangkat, jabatan, dan prestasi, ia jelas tidak ada apa-apanya jika dibandingkan direktur PPG Unesa yang menganut prinsip ilmu padi. Sungguh, saya sangat jengkel mendengar bahwa Pak Khoiri dipersulit oleh pejabat tadi. ”Budi Darma yang namanya mendunia saja tidak seperti itu,” bisik Riski, anak ketiga Cak Yasin yang berumur lima tahun.

Direktur PPG Unesa lantas pamit kembali ke kantor. Saya sungkem dengan takzim. Saya siap melawan dengan tulisan di media cetak dan media sosial. Saya meminta pendapat Cak Yasin yang merupakan guru Alquran paling disegani di Surya Regency.

”Kita doakan saja setiap selesai shalat,” tegasnya. Saya tidak puas. Itu jawaban standar khas ustad. ”Sebaiknya kita batalkan saja ziarah ke Wali Limo, Bro,” kata saya kepada Cak Yasin. Dia malah mengancam membuang kruk saya jika berkata seperti itu lagi.

Sidoarjo, 3 Desember 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Desember 3, 2014, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: