Guru Kw


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Guru profesional sebagaimana tertera dalam UU Guru dan Dosen adalah guru ideal dambaan tiap sekolah. Kendatipun arti profesional dijelaskan cukup rinci di situ, tolok ukurnya bisa berdasar subjektivitas tertentu.

Guru ideal, dalam kacamata penganut perfeksionisme, bisa digambarkan sebagai seorang pegawai negeri negeri ataupun nonpegawai negeri, sudah bersertifikasi, punya rumah sendiri, punya kendaraan pribadi, finansialnya baik, keluarganya harmonis, berprestasi, dicintai murid dan disegani kolega, bisa menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi, pendidikan minimal strata dua, sering menjadi pembicara seminar, portofolionya lima bendel setebal 10 cm, buku-bukunya laris di pasaran, berlangganan koran nasional dan lokal, taat beribadah, grapyak (low profile), gemar menolong, pola hidupnya sehat dengan minum air putih minimal 1,5 liter sehari, sedap dipandang (good looking), punya selera humor, pernah berjabat tangan dengan pejabat negara, tidak alergi, sederhana tapi keren, menjadi pengurus organisasi guru, rajin berolahraga, wangi, serta berat dan tinggi badan seimbang.

Ketahuilah kawan, kalimat di atas itu contoh kalimat yang tidak baik. Sebab, satu kalimat sepanjang satu paragraf itu sangat buruk dan menyiksa pembaca. Lagi pula, gambaran itu terlalu mengada-ada. Sekarang mari kita lanjutkan topik ini.

Di sisi lain, ada pula istilah Guru Kw. Kw merupakan kependekan dari kwalitas atau kualitas, namun maknanya lebih merujuk pada imitasi. Guru Kw disematkan pada mereka yang sebenarnya kurang tulus menjadi guru. Yakni, orang-orang yang memilih terjun sebagai guru karena alasan kepepet dan mentok. Menganggap bahwa lebih baik jadi guru daripada nggak bekerja.

Guru Kw itu sangat pragmatis. Prinsipnya, berangkat, ngajar, selesai, pulang, dan tiap bulan menerima honor/gaji. Begitu terus setiap hari. Hidupnya tidak berwarna.

Sebagaimana tren Kw, ada pula guru Kw 1, guru Kw 2, dan guru Kw 3. Contoh guru Kw 1 adalah lulusan perguruan tinggi LPTK, bergelar SPd, punya akta mengajar, menguasai ilmu pedagogi dan andragogi, bangga menjadi korps guru, sosialnya bagus, tapi pernah 3 bulan menunggak cicilan motor di FIF sehingga di-blacklist bank dan sulit jika ingin mengajukan pinjaman kembali. Karir cemerlangnya nyaris tercoreng.

Guru Kw 2 ialah lulusan LPTK, sejak remaja bercita-cita sebagai guru, bergelar SPd dari disiplin ilmu biologi, tapi mengajar bahasa Indonesia dan geografi. Sudah begitu, pernah izin sakit dua hari ke kepala sekolah padahal mengisi seminar TIK di luar kota. Gawat betul. Jelas, ini sudah nggak bener dan hanya dilakukan guru Kw 2.

Sementara guru Kw 3 merupakan mereka yang sebenarnya menjadi guru karena alasan terpaksa. Terpaksa melamar jadi guru karena desakan ekonomi. Daripada nganggur, begitu pikirnya. Niatnya saja sudah nggak tulus. Tak heran jika ia bisa nyambi jualan bed cover, batik, camilan, ataupun LKS di sekolah. Berwirausaha memang tidak salah. Namun, jika ini lebih prioritas ketimbang mengajar, kasihan anak didiknya.

Jadi, sudah semestinya seleksi rekrutmen guru dilakukan secara ketat, baik, transparan, akuntabel, dan dapat dipertanggungjawabkan. Tujuannya, mencetak guru-guru berkualitas yang mampu mencetak generasi cerdas yang bermoral, berakhlak, dan berbudi.

Masyarakat juga harus sangat menghormati guru. Jangan memandang bahwa posisi guru kalah elite dibandingkan dosen. Jangan begitu. Mulai sekarang mari kita semua menilai bahwa guru itu lebih bergengsi ketimbang jabatan menteri atau direktur BUMN.

Kalau bisa, tolong berikan kemudahan untuk guru-guru berkualitas. Misalnya, diskon 70 persen saat beli buku, gratis naik moda transporatasi massal termasuk maskapai Garuda Airways, gratis masuk tempat rekreasi edukasi, gratis langganan koran 10 tahun, dan bebas biaya operasi ganti sendi lutut. Jika itu bisa terwujud, saya akan melamar jadi guru dan segera mengurus NUPTK. Mumpung usia saya belum 35 tahun.

Sidoarjo, 27 November 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on November 30, 2014, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: