Dies Natalis Emas Unesa


Tjatatan Must Prast

Pada dies natalis ke-49 Unesa, saya masih sempat menyerahkan kado buku Pena Alumni, Membangun Unesa Melalui Budaya Literasi yang ditulis kawan-kawan alumni Unesa kepada Rektor Unesa Prof Muchlas Samani. Saat itu saya terpaksa memakai kruk karena kaki kanan saya cedera.

Tahun ini, 2014, tak terasa Unesa memasuki usia emas. Beberapa bulan sebelum dies natalis, saya terpaksa memutuskan mundur mengajar dari Sirikit School of Writing (SSW) karena recovery kaki kanan. Saya agak menyesal karena tak bisa membantu SSW dalam penulisan buku biografi pengusaha Ismail Nachu dan Wakil Wali Kota Bontang Isro Umar Ghani.

Setelah kondisi sempat membaik, saya dan beberapa kawan alumnus dipanggil Wakil Rektor 1 Unesa Prof Kisyani. Keperluannya, membantu persiapan dies natalis ke-50. Bisa dibilang hajatan Unesa kali ini lebih meriah karena akan melibatkan publik.

Beberapa lomba akan digeber untuk civitas academica Unesa serta masyarakat umum. Di antaranya, lomba menulis tentang Unesa dan lomba parikan. Sebagai kampus yang getol menggelorakan semangat literasi, sudah pasti gawe literasi tidak dilupakan. PPPG Unesa yang punya aula megah ditunjuk sebagai pelaksana dan tuan rumah. Rencananya, kegiatan tersebut dihelat pada 13 Desember dengan menghadirkan Budi Darma (budayawan), Nur Wahid (pemred Jawa Pos), dan Arini Pakistyaningsih (kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Surabaya).

Di sisi lain, korps PPG Unesa yang komandannya sangat produktif menulis akan meluncurkan karya para mahasiswanya yang ikut kelas literasi. Kelas ini dibidani oleh tokoh literasi nasional macam Bu Sirikit, Pak Khoiri, dan kolumnis Pak Anwar Djaelani. Keistiqamahan PPG Unesa dalam mendorong budaya literasi di lingkungannya dan masyarakat patut diacungi jempol.

Sementara itu, selain masih banyak acara lain yang semarak, satu lagi adalah penulisan buku 50 tokoh inspiratif yang merupakan lulusan Unesa (IKIP Surabaya). Prof Kisyani menunjuk tim penyusun yang terdiri atas Mas Ihsan (Sekjen IGI), Cak Samsul (pegiat UMKM), dan Pak Nursalim (dosen Unesa).

Saya yang sebenarnya membantu tim seminar literasi diminta Mas Ihsan untuk ikut menyusun buku alumni inspiratif Unesa tersebut. Setelah tim berembuk dengan pihak rektorat, disaringlah 50 nama alumnus yang kini menjadi tokoh di berbagai bidang. Mulai pendidikan, birokrasi, jurnalistik, militer, fashion, hingga olahraga.

Lewat diskusi dengan Mas Ihsan, saya mengusulkan judul 50 Tokoh Inspiratif Alumni Unesa: Bekerja, Berkarya, Berprestasi. Tentu saja buku ini tidak bermaksud menonjolkan 50 alumnus tersebut karena diharapkan masih ada kelanjutan buku-buku tokoh alumni berikutnya. Diharapkan kiprah cemerlang para alumnus Unesa tersebut bisa memotivasi para generasi muda yang kini ditempa di Unesa. Harapan lainnya, kisah-kisah alumni Unesa ini juga bisa menginspirasi masyarakat lewat perjuangan, pengorbanan, dan karya-karya yang mereka hasilkan.

Dalam perjalanannya, saya meminta bantuan Cak Basir (humas Unesa) untuk memprofilkan 50 alumnus tersebut. Untuk perwajahannya, saya meminta bantuan Bung Fariz, salah satu desainer grafis muda terbaik Unesa. Cover-nya sudah dibuat secara ciamik soro.

Tingkat kesulitan penyusunan buku ini umumnya adalah kesibukan narasumber sehingga sulit ditemui. Untungnya, ada beberapa literatur yang bisa dipakai sebagai sumber data untuk menulis profil sebagian tokoh sehingga dapat menghemat waktu penulisan.

Apesnya, di tengah perjalanan buku ini, kondisi lutut saya cedera berat akibat trauma berulang setelah berkali-kali jatuh dari sepeda motor. Terjadi kerusakan sendi stadium 3 yang akhirnya mengharuskan saya rehat dari aktivitas fisik dulu sampai operasi ganti lutut.

Walhasil, koordinasi dengan kawan-kawan kini hanya bisa saya lakukan di atas tempat tidur dan kursi roda. Terakhir, saya memberikan laporan kepada Mas Ihsan bahwa buku ini sejatinya butuh waktu lebih lama lagi untuk penyempurnaan. Namun, peluncurannya bisa dilakukan pas puncak dies natalis 19 Desember nanti. Insya Allah, buku ini ciamsor, qute, nggemesno, elegan, dan inspiratif. Matur nuwun untuk Mas Ihsan, Cak Samsul, Pak Nursalim, Cak Basir atas kerja sama tim yang indah serta para narasumber.

Jika pada dies natalis ke-49 saya memakai kruk, dalam dies natalis emas ini saya memakai kursi roda. Bisa jadi saya tidak bisa ikut hadir saat seminar literasi dan launching buku 50 Tokoh Inspiratif Alumni Unesa bersama kawan-kawan karena menjalani operasi ganti dengkul. Dirgahayu Unesa.

Sidoarjo, 25 November 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on November 25, 2014, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: