Kisah Seorang Bapak


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Belum pernah saya mendengar kisah seorang bapak yang begitu heroik ini. Dalam sebuah obrolan dengan Pak Anam, suami Bu Sirikit Syah (pendiri LKM Media Wacth), cerita tentang laki-laki tersebut sering saya dengar.

Namanya Pak Latief, guru SMAN 5 Surabaya. Ia sohib lama Bu Sirikit sejak akhir 1970-an. Keduanya sama-sama pernah berkuliah di IKIP Surabaya. Bu Sirikit di jurusan bahasa Inggris, sedangkan Pak Latief di bahasa Indonesia.

”Mas Latief adalah contoh ayah yang luar biasa,” ujar Pak Anam yang diamini Bu Sirikit. Pak Latief dikaruniai anak yang (maaf) cacat. Dari Pak Anam, saya tahu bahwa sang anak menderita sakit yang membutuhkan biaya tidak kecil dalam sekali periksa.

Ke mana pun Pak Latief pergi, sang anak selalu diajak. Sejak kecil selalu begitu. Pak Latief tidak rikuh, malu, ataupun gengsi memperkenalkan anaknya kepada kawan-kawannya kendatipun anaknya ”berbeda”. ”Tak jarang Mas Latief menggendong anaknya,” tutur Pak Anam.

Kini sang anak jarang diajak bapaknya apabila ada seremoni atau pertemuan antarkolega dan sahabat. Mengapa? ”Saya sudah nggak kuat menggendong dia lagi. Lha wong dia sudah sangat besar sekarang,” tegas Pak Anam menirukan ucapan Pak Latief.

Seandainya kuat menggendong, kata Pak Latief, tentu dirinya tidak segan mengajak anaknya tersebut ke mana pun pergi. Menurut Pak Anam, si anak bisa disebut sebagai anak mahal karena sangat besarnya biaya yang sudah dikeluarkan Pak Latief untuk mengobatkannya (nominalnya tidak disebut oleh Pak Anam).

Besarnya cinta dan ketulusan Pak Latief dalam merawat anaknya yang memiliki kekurangan fisik dan menderita sakit itu mungkin terdengar biasa. Namun, yang luar biasa adalah jawabannya ketika ditanya alasannya tidak rikuh, malu, ataupun gengsi memiliki anak yang bagi sebagian orang lain mungkin dianggap ”beban”.

Pak Latief menjawab, anak adalah anugerah dan titipan Tuhan. Karena itu, mereka harus dijaga, dirawat, dibesarkan, dan diberikan pendidikan layak sebagaimana mestinya apa pun kondisinya (baik sehat, sakit, maupun cacat fisik atau cacat mental).

Saya pernah menangis ketika membaca berita bayi cacat yang sengaja dibuang orang tuanya. Ekonomi dan aib selalu dijadikan alasan pembenar untuk membuang atau bahkan menghilangkan nyawa bayi-bayi tak berdosa tersebut. Hak Tuhan sebagai pemegang otoritas atas hidup dan mati seseorang jelas-jelas dikangkangi oleh orang tua pembunuh itu.

Ketika bangsa kita mengalami krisis kepercayaan dan moral, kisah Pak Latief setidaknya menjadi oase bagi dunia pendidikan karakter. Ilmu tentang cinta kasih dan memanusiakan manusia ini bakal sulit ditemui di bangku-bangku sekolah dan kuliah, yang hingga kini masih sibuk dengan angka-angka, prestasi akademis, hingga pro-kontra kurikulum.

Sidoarjo, 21 November 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on November 21, 2014, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: