Nostalgia AADC


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Kebangkitan film nasional di era 2000-an diawali dengan kesuksesan Jelangkung besutan Rizal Mantovani dan Jose Purnomo. Disebut bangkit karena film nasional pada awal 1990-an memang lesu.

Kebanyakan bioskop kelas teri saat itu memutar film-film cabul yang dibintangi bom seks macam Eva Arnaz, Ayu Azhari, Sally Marcelina, Kiki Fatmala, Yurike Prastika, Inneke Koesherawati (kini sudah insyaf), Malvin Shayna, Windy Cindyana, Febby Lawrence, dan Gitty Srinita. Heran, saya kok masih hafal begini. Betapa tidak, pada akhir 1999 hingga awal 2000-an film-film yang ”menegangkan” itu disetel di Lativi (sekarang TV One) antara pukul 23.00 hingga dini hari.

Meledaknya Jelangkung (meraup 5,7 juta penonton) mengikuti jejak sukses Petualangan Sherina yang menjadi salah satu film terlaris sepanjang masa di tanah air. Pada 2002, tepat ketika saya semester enam di IKIP Surabaya (Unesa), dirilis film fenomenal Ada Apa dengan Cinta? (AADC).

Sebagai mahasiswa jurusan sastra Indonesia, gairah menulis puisi saat itu sedang tinggi-tingginya. Apalagi, saya sedang kepincut berat dengan gaya berpuisinya Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, dan KH A. Mustofa Bisri. Ketiganya jagoan dalam puisi bertema cinta dan sosial. Munculnya film AADC yang dibikin di SMA Kolese Gonzaga, Jakarta, ini semakin mempertebal rasa cinta saya terhadap dunia puisi. Sebab, di film ini juga terdapat adegan-adegan yang mencantumkan puisi-puisi romantis Rangga (ditulis oleh Rako Prijanto).

Film ini pula yang menginspirasi skripsi saya dengan mengambil skenario filmnya (pada 2003 buku skenario AADC diterbitkan) sebagai bahan penelitian. Puisi Rangga pada saat perpisahan dengan Cinta sangat terkenal. Terutama bait ”Aku pasti kembali dalam satu purnama” yang kini jadi hit di Line dalam minidrama AADC season 2.

Para pemain film AADC yang seumuran dengan saya kini sudah menyandang predikat mamah muda (mahmud). Nicolas Saputra semakin berwibawa di usia kepala tiga. Sementara Dian Sastro masih awet muda meski dua kali turun mesin. Sissy Priscilia sudah menjadi mama yang baik, demikian juga Titi Kamal.

Kini saat minidrama AADC muncul kembali dengan plesetan ”apakah satu purnama di New York beda sama satu purnama di Jakarta?”, rasanya saya bernostalgia ke era ketika saya bermimpi bisa menulis buku puisi seperti Prof Sapardi dan Pak Joko Pinurbo.

Mengutip pernyataan Prof Sapardi, menulis puisi itu mengolah jiwa dan salah satu cara untuk menikmati hidup. Saya yakin, apabila Cinta membaca puisi-puisi lirisnya Prof Sapardi seperti Aku Ingin atau Hujan Bulan Juni, Cinta bakal gandrung karena tiap baitnya punya jiwa, bukan sekadar roman picisan.

Kini giliran saya yang setengah tidak percaya bahwa film AADC ternyata bisa dijadikan bahan skripsi. Copy tugas akhir itu kini teronggok dalam sebuah disket lawas yang sekarang menjadi barang purba. Yang jelas, skripsi saya cukup tebal waktu itu. Dan yang bikin tebal adalah lampiran skenario filmnya!

20 November 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on November 20, 2014, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: