Kelas Literasi PPG Unesa


Tjatatan Must Prast

Meski sudah memasuki bulan Oktober, belum ada tanda-tanda hujan di langit Surabaya. Tak heran jika perjalanan dengan sepeda motor ke PPG Unesa di kawasan Lidah Wetan Jumat siang itu (24/10) serasa menyusuri Sahara. Terik surya seakan membakar ubun-ubun kepala.

Namun, begitu sampai di lokasi, neraka dunia lenyap seketika. Hawa sejuk dari pendingin ruangan plus suasana nyaman di gedung itu mengembalikan ketenangan batin. Seolah di rumah sendiri. Apalagi, gedung sembilan lantai PPG Unesa dihuni banyak Srikandi, yakni para mahasiswi tangguh PPG yang pernah bertugas di Sumba Timur, Aceh Singkil, Talaud, hingga Maluku Barat Daya.

Selepas diskusi di Unitomo dan membaca literatur-literatur milik USAID Prioritas, saya memang langsung ke PPG Unesa untuk menyambangi kelas literasi di sana. Kelas literasi ini diinisiasi oleh Direktur PPG Unesa Prof Luthfiyah Nurlaela.

Dalam upaya membangun budaya literasi di lingkungan Unesa, perempuan asal Tuban itu memang tampil di garda terdepan. Ia lantas mengandeng kolega-koleganya dari kalangan akademisi dan profesional untuk menyukseskan gerakan literasi tersebut.

Sebagai informasi, pencanangan Jatim sebagai motor gerakan literasi nasional pada 15 Juni 2014 dibidani oleh alumnus Unesa macam Sirikit Syah. Termasuk Luthfiyah Nurlaela. Momentumnya dilanjutkan di PPG Unesa. Pada 27 Juni 2014, Luthfiyah bersama sahabatnya, redaktur Jawa Pos Rukin Firda (almarhum), menggelar hajatan literasi di gedung megah milik PPG Unesa.

Para pegiat literasi Jatim diajak duduk di mimbar untuk memberikan spirit kepada para mahasiswa PPG dan peserta lainnya. Mereka antara lain Sirikit Syah (Sirikit School of Writing), Much. Khoiri (Jaringan Literasi Indonesia), Satria Dharma (Eureka Academia, IGI), dan Achmad Wahju (Indonesia Menulis). Komitmen bersama untuk terus mendorong budaya literasi di masyarakat ditandai dalam penandatanganan Plakat Literasi yang kini diabadikan di Gedung Wiyata Mandala di lantai 9 PPG Unesa.

Dari kacamata saya, sebelum Unesa benar-benar merealisasikan pusat kajian literasinya, PPG Unesa sebenarnya sudah tampil sebagai episentrumnya. Titik gempa atau pusat semangatnya sudah dibangun di Wiyata Mandala.

Maka, keberadaan kelas literasi ini menjadi sangat penting. Kelas ini memfasilitasi para mahasiswa PPG untuk mengembangkan keterampilan menulisnya di bidang fiksi (cerpen) dan nonfiksi (artikel opini). Setelah Rukin Firda wafat, tim pengajarnya diisi oleh Khoiri, Sirikit, Hujuala (dosen muda Unesa), dan kolumnis Anwar Djaelani.

Diharapkan selepas mengikuti kelas literasi, para pesertanya mampu memotret kembali pengalaman-pengalaman mereka melalui tulisan berupa cerpen atau opini yang baik. Tujuannya memberikan pencerahan bahwa demi membangun kemajuan, perjuangan dan pengorbanan itu tidak mengenal batas.

Siang itu kelas literasi fiksi dan opini yang diampu Much Khoiri dan Anwar Djaelani tidak seriuh pada pertemuan perdana. Sebab, sebagian besar mahasiswa PPG tengah melaksanakan tugas PPL di berbagai sekolah di Kota Pahlawan.

Kendatipun hanya segelintir yang mewarnai kelas literasi tersebut, spirit mereka tidak kalah dengan massa yang memenuhi pesta rakyat saat pelantikan presiden baru. Semangat dari wajah-wajah itu ikut menyejukkan suasana di tengah terik yang membakar di luar sana.

Sidoarjo, 24 Oktober 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Oktober 25, 2014, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: