Mengapa Tak Ada Iklan Membaca?


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Iklan layanan masyarakat tentang korban rokok yang diluncurkan Menkes Nafsiah Mboi pada 10 Oktober lalu sangat mengerikan. Judulnya Berhentilah Menikmati Rokok sebelum Rokok Menikmatimu. Data WHO tahun 2014 memang merilis bahwa rokok membunuh enam juta jiwa per tahun. Sekitar 600 ribu di antaranya ialah perokok pasif.

Kembali ke iklan rokok tersebut, isinya adalah testimoni dari seorang laki-laki tua yang tenggorokannya berlubang setelah dioperasi. Penyebabnya kanker. Sungguh iklan ini sangat mengerikan. Apalagi, Kementerian Kesehatan gencar memasang iklan tersebut di berbagai stasiun televisi.

Bertolak dari hal ini, semestinya kementerian yang mengurusi pendidikan juga bisa membuat iklan bernada peringatan keras seperti itu. Mengutip tulisan Budi Darma dalam buku Membangun Budaya Literasi (Unesa Press, Oktober 2014), eksistensi dan jatidiri bangsa untuk menuju perabadan yang maju dapat dibangun melalui literasi.

Bicara literasi tentu tak bisa dilepaskan dari budaya membaca di masyarakat. Selain masuk ke pintu kurikulum, harus dibuat iklan layanan masyarakat yang berisi ancaman bencana besar apabila budaya membaca bangsa kita lesu. Misalnya, dijajah secara ekonomi, politik, budaya, dan aneka penjajahan lain yang membawa kehancuran jatidiri bangsa kita.

Ini menjadi sangat penting melebihi tol laut yang bakal digeber pemerintah. Bayangkan, di Indonesia masih ada penyandang buta aksara. Ketika suara-suara vokal tentang urgensi pemerataan pendidikan, seharusnya pemberantasan buta huruf masuk daftar teratas untuk segera ditangani.

Dengan demikian, apabila iklan tentang membaca itu diluncurkan ke publik, pesannya bisa diserap seluruh lapisan masyarakat. Namun, pemerintah juga harus mendukung upaya ini dengan program penunjang seperti buku murah/gratis, pendidikan terjangkau, sarana prasarana teknologi yang memadai dan merata, serta SDM pendidik yang berkualitas.

Di era persaingan global seperti saat ini, kita tentu tidak berharap bangsa Indonesia kian kalah bersaing karena tidak memiliki fondasi budaya literasi yang kuat. Karena itu, gaung budaya membaca harus terus dikumandangkan. Jika bangsa ini tak ingin mati karena mengidap virus aliterasi, tak ada alasan untuk mengabaikan budaya membaca. Kalau testimoni rokok diiklankan sedemikian gencar, hal serupa kiranya layak dilakukan untuk budaya literasi. Membaca atau mati!

Unitomo, 23 Oktober 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Oktober 23, 2014, in Literasi. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. mudah-mudahan Jokowi mendengar, ayo membaca!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: