John R. Daulau Bicara tentang Habe Arifin


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Saya pernah mencari tahu jawaban mengapa salah satu opini Mas Habe tidak dimuat di Jawa Pos September lalu. Saya membaca kembali tulisannya berkali-kali. Lalu, sampailah saya pada kesimpulan bahwa artikel tersebut terlalu keren untuk dimuat di koran nasional.

Maksudnya, Mas Habe selalu menulis dengan gaya yang meledak-ledak, ceplas-ceplos, menukik, menampar, menelanjangi, menguliti, dan apa adanya. Bahasanya khas demonstran, yang memang melekat pada dirinya. Saya berasumsi bahwa Jawa Pos ”menolak” artikel tersebut bukan karena tulisannya tidak bagus, tetapi ternyata Mas Habe tidak mengirimkan data lengkapnya plus scan KTP, NPWP, dan nomor kontaknya. Ya, artikel itu dikirim glundungan.

Kalau dilempar di harian Duta Masyarakat, koran santri terbesar di Jawa Timur (amiiin!), artikel tersebut pasti ikut naik cetak. Lha wong redaktur opininya adalah sohib Mas Habe sendiri ketika masih masa perjuangan dengan sepeda kuning bututnya di Ketintang PTT, Surabaya. Dialah Om Roy, orang dekat Sekjen IGI.

Beberapa kali saya membaca artikel opini Mas Habe di Duta Masyarakat, termasuk tajuk-tajuknya yang pernah ditulis di harian Fajar Bali. Menggigit.

Berkali-kali saya mencoba berlatih menulis dengan mempelajari gaya tulisan Mas Habe di editorial Fajar Bali, ternyata tidak mudah. Maqom-nya sebagai jurnalis senior benar-benar terlihat. Sejak ia berdinas sebagai wartawan Suara Indonesia (kini Radar Surabaya, Jawa Pos Group), tulisannya dikenal tajam. Ia pernah ngangsu kawruh langsung dengan Bahari, wartawan senior Jawa Pos yang pernah ngepos di Jakarta untuk berita-berita politik.

Oleh banyak awak redaksi Jawa Pos, Bahari diakui sebagai salah satu jurnalis yang gigih dan total sehingga kualitas reportasenya sangat bagus. Tak heran jika Mas Habe mewarisi ilmu Pak Bahari, yang mengukir sejarah lewat perjalanan Haji Darat pada 2011.

Nah, saat membuat liputan khusus tentang pendidikan, saya bersua John R. Daulau. Dia mantan juru kunci Gema, unit kegiatan mahasiswa (UKM) di bidang jurnalistik yang merupakan salah satu UKM elite di IKIP Surabaya (Unesa). Jebolan Gema Unesa banyak bertebaran di media massa saat ini. Di antaranya, Solikhin (eks redaktur JP dan Sindo), R. Giryadi (seniman dan penulis), Agung Putu Iskandar (wartawan terbaik Jawa Pos), dan Mas Habe.

Awalnya, Pak John yang kini bertugas di Humas Unesa menanyakan nomor ponsel Mas Habe kepada saya. Rupa-rupanya, Pak John yang hendak memasuki masa pensiun itu menyimpan kenangan bersama Mas Habe saat keduanya sama-sama menggawangi tabloid Gema yang pernah berjaya di masanya.

”Habe itu jurnalis terbaik Gema,” kisah Pak John membuka perbincangan. Pada masa-masa menjelang reformasi, tabloid Gema dipimpin oleh Pak Leo Idra Adriana (almarhum, namanya kini diabadikan sebagai nama aula FBS Unesa).

Mas Habe direkomendasikan ke UKM Gema oleh sastrawan Wawan Setiawan, salah satu dosen jurusan bahasa dan sastra Indonesia IKIP Surabaya waktu itu. Saat itu seleksi wartawan Gema sangat ketat. Hanya yang terbaik yang bisa masuk UKM tersebut. Kecerdasan akademik saja tidak cukup untuk membuat lolos. Ia juga harus memiliki wawasan luas, keterampilan menulis yang baik, memiliki analisis kuat, serta punya visi maju dan kompetensi bertanya. Inilah yang mengangkat gengsi UKM itu di IKIP Surabaya.

”Walaupun saat itu Habe masih mahasiswa, kualitasnya bisa disejajarkan dengan wartawan-wartawan senior di surat kabar,” ujar Pak John. Pria yang tinggal di kawasan Tanjung Perak ini mengisahkan bahwa awal mula ”dititipi” oleh Pak Wawan, komentar Pak Leo adalah ”Kurang ajar, saya dikerjain”.

Maksudnya, Pak Leo sangat terkejut karena disodori nama calon wartawan Gema yang benar-benar pilih tanding. Karena dinilai punya kinerja sangat bagus, Mas Habe langsung diposkan di halaman satu (halaman penting di tabloid Gema).

”Tulisan Habe pernah bikin heboh se-IKIP Surabaya. Ulasannya tentang pencurian nilai di jurusan bahasa Inggris. Setelah kasus ini mencuat, jajaran pejabat IKIP Surabaya melakukan reformasi birokrasi,” cerita Pak John.

”Sampai-sampai Prof Budi Darma ikut berkomentar,” lanjutnya. Menurut Pak John, budayawan yang pernah ngangsu elmu di Negeri Paman Sam itu berkata, ”Kacamata saya kini terbuka”. Ini adalah kiasan untuk menggambarkan bahwa Prof Budi Darma ikut tercengang dengan terungkapnya kasus pencurian nilai yang bermula dari investigasi Mas Habe.

Bintang Mas Habe terus bersinar. Hingga ia akhirnya mendapat beasiswa dari FPBS IKIP Surabaya setelah mewawancarai Pak Dekan. Hingga di situ, obrolan saya dengan Pak John selesai. Namun, ia sempat menanyakan kondisi terakhir Mas Habe. ”Gimana ya dia sekarang?” ucapnya.

”Beliau jadi politisi dan pengusaha, Pak. Tambah ganteng dan mapan sekarang. Tapi, kata kawan-kawan seperjuangannya, beliau masih tetap seperti yang dulu. Item!” jawab saya.

Sidoarjo, 18 Oktober 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Oktober 18, 2014, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: