RS Swasta vs RSUD


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Disparitas antara rumah sakit (RS) swasta dan RS milik pemerintah (RSU/RSUD) memang lumayan njeglong (maaf, saya belum nemu padanan kata ini dalam bahasa Indonesia). Terutama dari segi layanan.

Yang paling kentara adalah layanan di RSUD dr Soetomo Surabaya. Inilah RS milik Pemprov Jatim yang paling lengkap. Tak heran jika RSUD tersebut kerap menjadi rujukan RSUD-RSUD lain di wilayah Jatim.

Sebenarnya, dokter-dokter senior di RSUD dr Soetomo tergolong top dan pilih tanding. Banyak penanganan pasien khusus yang berhasil dilakukan dengan gemilang. Misalnya, operasi bayi kembar siam, operasi face-off dengan pasien Lisa, dan banyak tindakan medis lain.

Namun, mungkin karena jadi rujukan, banyak pasien dari luar kota yang tak segera tertangani. Saya pernah melihat seorang pasien yang meraung-raung kesakitan, tapi tak kunjung dilayani. Tak sedikit pula pasien yang harus bersabar menunggu karena urusan administrasi. Saya tak tega melihat pemandangan seperti itu.

Jiwa saya yang nggak tegaan inilah yang membuat saya dulu mengurungkan diri menjadi dokter kandungan. Meskipun berbakat, duitnya yang nggak kuaaat.

Sementara itu, hal yang kontras terlihat di RS swasta. Layanannya cepat. RS swasta langganan saya adalah RS St. Vincentius A Paulo (RS RKZ) Surabaya. Pelayanan yang ramah, tak ada diskriminasi untuk pasien dari kalangan mana pun, dan yang penting susternya kebanyakan masih muda nan sehat berisi. Ndak seperti rata-rata perawat di RS milik pemerintah yang rata-rata sudah kelewat akil balig (baca: mature sangat).

Faktor kedisiplinan pula yang membuat RS swasta itu rata-rata nyaman dan bersih sehingga pasiennya juga mau tak mau harus menyesuaikan diri. Ndak seperti pasien-pasien di RSUD. Ketika periksa kesehatan di RSUD Sidoarjo akhir pekan lalu, misalnya, saya antre bersama pasien lain.

Kebetulan seorang bapak di sebelah kiri saya memiliki aroma tubuh yang cukup cekli (menyengat) seakan belum mandi beberapa hari. Untuk meninggalkan tempat itu, rasanya sudah tak mungkin karena giliran periksa berikutnya adalah saya. Saat dirundung keresahan yang dahsyat, eh kok sempat-sempatnya beliau itu buang gas tak kasat mata. Saya yakin kalau saja ada Bima di situ, bisa-bisa pria tadi bakal kena gada.

Usai periksa di RSUD, saya langsung mengabari nyonya di rumah. Intinya, saya ndak mau pergi ke RSUD jika sehat walafiat. Eh maaf, maksudnya saya nggak mau lagi berobat di RSUD Sidoarjo.

Emangnya kenapa, Mas?” tanya nyonya.

”Pasiennya kayaknya nggak pernah ikut penataran P4!”

2 Oktober 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Oktober 2, 2014, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Itulah rumah sakitnya rakyat Mas. Yang bukan rakyat ya silakan berobat ke rumah sakit yang lain.

  2. Semoga kita tidak terlalu sering berobat. Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: