Pindah Rumah


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Bukan cuma wajah saja yang mirip Jenderal A.H. Nasution, kondisi saya sekarang ini juga persis keadaan mantan Menko Hankam Kasab pada awal Oktober 1965 itu. Keadaan kaki kanan saya mengalami kemunduran sehingga tak banyak berkegiatan di luar. Mungkin ini salah satunya disebabkan banyaknya aktivitas fisik sehingga membuat masa pemulihan kaki saya lebih lambat dari perkiraan dokter.

Karena itu, saya memutuskan untuk tidak ngantor di Pertamina dulu. Terlalu berisiko. Pasalnya, saya memang bukan direksi, apalagi karyawannya.

Maaf, maksudnya, saya memutuskan untuk tidak banyak berkegiatan fisik dahulu. Saya tidak berani bermain tenis. Sebab, ya itu, pegang raketnya saja saya sudah keder, apalagi memainkannya dengan para bapak yang rata-rata sudah berumur setengah abad.

Cukup lama pula saya tidak bersilaturahmi ke Sirikit School of Writing dan Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim). Bertemu kawan-kawan dan bidadari-bidadari di sana. Liputan khusus ke Akademi Angkatan Laut yang mulai menerima taruni (kadet perempuan) tahun ini pun harus ditunda. Kegiatan tulis-menulis dan korespondensi untuk Jawa Pos Group terpaksa saya lakukan di rumah.

Keberangkatan ke Tanah Suci pada tahun ini pun akhirnya tinggal mimpi. Sebab, kalau saya memaksakan diri ke sana untuk berhaji, akibatnya bisa fatal. Saya bisa dideportasi atau bahkan dihukum oleh otoritas Kerajaan Arab Saudi. Pasalnya, saya belum terdaftar sebagai calon jamaah haji. Tabungan saya di Bank Muamalat belum cukup untuk sekadar memperoleh kuota.

Okelah, saya sadar bahwa show must go on. Hidup harus berlanjut tanpa banyak berkeluh kesah. Saya saat ini lebih sering ngurusi warga di kampung kami. Hikmahnya, sebagai pejabat RT, saya lebih dekat dengan warga dan lebih sering blusukan. Ndak enaknya, saya harus membantu urusan paling prithil (remeh-temeh). Misalnya, urusan pindah rumah.

Yup, seorang tetangga kami pindah rumah ke Jogja. Saya membantu mencarikan truk sewaan. Ternyata barang-barangnya lumayan banyak. Mungkin sekitar empat truk. Pemindahan barang dilakukan malam hari. Saya sendiri hanya mengawasi. Namun, saat melihat tukang panggulnya kesulitan mengangkat sebuah ranjang tidur, saya bergegas ikut membantu. Beratnya sih bukan persoalan meski kaki saya agak pincang. Yang jadi masalah, mata saya menangkap adanya upil-upil yang menempel di kerangka tempat tidur itu. Wuik, ternyata saya tidak sendirian!

24 September 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on September 24, 2014, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: