SSB, PSSI, dan Akademi La Masia


Oleh Eko Prasetyo

Mahasiswa Pascasarjana Unitomo Surabaya

(Tulisan ini dimuat di Harian Bola, 17 September 2014)

Sumber: Harian Bola, 17 September 2014 (dok. pribadi)

Sumber: Harian Bola, 17 September 2014 (dok. pribadi)

Di Indonesia, sekolah sepak bola (SSB) bisa dikatakan menjamur. Berbagai prestasi juga sering dituai oleh SSB-SSB Indonesia, baik di tingkat nasional maupun internasional. Tak jarang, dari SSB tersebut lahir bibit-bibit unggulan pemain sepak bola nasional.

Saat ini memasukkan anak ke sekolah sepak bola seakan telah menjadi gaya hidup, terutama di masyarakat perkotaan. Apalagi sejak melejitnya popularitas Timnas U-19 dengan bintang-bintang mudanya seperti Evan Dimas Darmono. Tak heran, banyak orang tua yang berharap anaknya tidak sekadar mengembangkan hobi sepak bola, tapi meningkatkan skill untuk menjadi pemain hebat.

Menjamurnya SSB di daerah-daerah sepatutnya menjaring perhatian PSSI sebagai induk sepak bola nasional. Yang harus disadari, sekolah sepak bola merupakan salah satu pilar bagi prestasi olahraga ini di kancah nasional.

Lesunya prestasi timnas senior sesungguhnya adalah cermin bagaimana lemahnya pembinaan sepak bola usia dini di tanah air. Beruntung, dahaga masyarakat Indonesia akan prestasi timnas sepak bola mampu dijawab oleh Timnas U-19 yang bermain gemilang di ajang Piala AFF U-19 pada 2013.

Hasil itu sebenarnya telah menjawab bahwa kita seharusnya mengembangkan pembinaan sepak bola usia muda. Nah, SSB menjadi jawaban dan solusi paling tepat. Bukan justru membuka keran lebar-lebar terhadap naturalisasi pemain asing.

SEA Games 1987 & 1991

PSSI semestinya memberikan porsi perhatian lebih besar terhadap SSB. Sebab, merekalah sesungguhnya pencetak pemain-pemain potensial di masa mendatang. Salah satu upaya itu bisa diwujudkan dalam bentuk penyelenggaraan kompetisi SSB secara baik dan profesional.

Tokoh sepak bola nasional almarhum Kardono pernah mengingatkan pentingnya pengelolaan SSB. Sebab, keberhasilan Timnas Indonesia menjuarai SEA Games 1987 dan 1991 tak bisa dilepaskan dari potensi pemain muda dan pembinaan sepak bola sejak dini.

Contoh paling sahih adalah Barcelona. Akademi La Masia menjadi bukti mutakhir tentang suksesnya pembinaan sepak bola usia dini. Pemain-pemain top seperti Carles Puyol, Cesc Fabregas, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Sergio Busquets, Pedro, dan Lionel Messi adalah produk La Masia.

Di musim 2014/2015, Barcelona seakan memamerkan parade produk Akademi La Masia. Yang terbaru, Munir El Hadadi tampil gemilang di laga perdananya di La Liga. Mereka kebanyakan datang di Akademi La Masia pada usia tujuh tahun. Ini artinya sama dengan usia anak-anak yang digembleng di sekolah sepak bola.

Kita mestinya bisa berkaca pada kesuksesan Akademi La Masia. Yakni prestasi sebuah klub atau tim nasional tak bisa dilepaskan dari pola pembinaan sejak dini. Artinya, jika PSSI ingin menyudahi dahaga prestasi berkepanjangan ini, berikan porsi lebih pada SSB sebagai keran pemain unggul di masa mendatang. Kita harus mulai sejak sekarang.

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on September 17, 2014, in Olahraga. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: