Bangun Sinergi Antar Pegiat Literasi


GAYENG: Diskusi buku Boom Literasi di Sanggar Pena Ananda Tulungagung (23/8/2014). (Foto: Choirur)

GAYENG: Diskusi buku Boom Literasi di Sanggar Pena Ananda Tulungagung (23/8/2014). (Foto: Choirur)

TULUNGAGUNG – Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan masyarakat melek literasi. Baik meningkatkan budaya membaca maupun menulisnya. Hal tersebut terungkap dalam diskusi buku Boom Literasi: Menjawab Tragedi Nol Buku di Sanggar Pena Ananda Club Tulungagung kemarin (23/8).

Sore itu puluhan pegiat literasi Tulungagung dan Trenggalek berkumpul untuk membincang buku Boom Literasi di sanggar milik pasutri Tjut Zakiyah dan Siwi Sang yang dua-duanya juga penulis. Selain mengundang dosen IAIN Tulungagung Ngainun Naim sebagai pembedah buku, mereka turut mengundang tim editor Boom Literasi dari Surabaya. Yaitu, Much. Khoiri, Suhartoko, dan Eko Prasetyo.

Dalam uraiannya, Naim mengatakan bahwa Indonesia tak boleh terus tertinggal di berbagai bidang. ”Karena itu, literasi memegang peran yang sangat penting dalam hal ini. Memperkuat budaya literasi mutlak dilakukan apabila kita tidak ingin terus tertinggal dari bangsa lain,” tegas penulis buku The Power of Reading tersebut.

Senada dengan Naim, Eko Prasetyo mengingatkan bahwa Indonesia akan menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN tahun depan. ”Maka, kita perlu menyiapkan SDM-SDM yang ahli dan siap bersaing dengan tenaga ahli dari negara lain. Salah satu kunci untuk memperkuat dan meningkatkan kualitas SDM kita adalah keterampilan literasi yang baik,” tegasnya.

BEDAH BUKU: Much. Khoiri (kiri) menjelaskan proses kreatif menulis buku Boom Literasi bersama para pegiat literasi alumni Unesa. Salah satunya, Hartoko (kanan) yang juga editor buku tersebut. (foto: Choirur)

BEDAH BUKU: Much. Khoiri (kiri) menjelaskan proses kreatif menulis buku Boom Literasi bersama para pegiat literasi alumni Unesa. Salah satunya, Hartoko (kanan) yang juga editor buku tersebut. (foto: Choirur)

Narasumber lainnya, Khoiri, menyampaikan bahwa budaya membaca dan menulis perlu terus digalakkan ke seluruh lapisan masyarakat. Dosen creative writing jebolan Amerika tersebut menegaskan, tanpa budaya literasi, sulit mengharapkan suatu bangsa akan mengalami peradaban yang maju. ”Kita harus memulainya dari diri sendiri dengan membangun disiplin literasi yang baik. Minimal setiap hari kita meluangkan waktu untuk membaca entah itu surat kabar, majalah, situs online, ataupun buku. Tugas berikutnya, kita mengajak orang-orang di terdekat kita untuk melakukan hal yang sama dan terus begitu hingga menyentuh masyarakat secara umum,” ujarnya.

Sementara itu, Suhartoko menuturkan gerakan literasi perlu dilakukan secara masif. ”Sinergi sangat dibutuhkan untuk membentuk simpul-simpul literasi yang memiliki peran dalam membangun budaya ini di masyarakat,” kata mantan wartawan senior Surabaya Post tersebut.

Kepala PAUD-TK Al Irsyad Tulungagung Dhiana Choirul mengapresiasi kegiatan itu. Ia mengakui bahwa menulis memberikan kekuatan tersendiri. ”Selama ini guru TK masih dipandang rendah oleh sebagian orang. Itulah yang mengilhami saya menulis sebuah karangan Aku Bangga Menjadi Guru TK. Tulisan ini ternyata mampu membangkitkan semangat saya dan rekan-rekan sejawat,” ucapnya yang langsung diberi aplaus para peserta lainnya.

Choirur Rokhim, peserta lainnya, menanyakan prioritas yang lebih dulu dikedepankan seorang penulis. ”Apakah kuantitas atau kualitas?” ucap aktivis literasi asal Trenggalek tersebut. Empat narasumber yang hadir sepakat bahwa proses kreatif menulis membutuhkan kontemplasi agar tulisan dapat memberikan pencerahan bagi pembaca. ”Produktif dalam menulis itu baik. Namun, akan lebih baik lagi apabila produktivitas tersebut diimbangi dengan kualitas. Mutu tidak bisa dikesampingkan dari sebuah karya karena penulis pun memiliki tanggung jawab terhadap tulisannya,” tegas Khoiri.

Pemilik Sanggar Pena Ananda Club Tulungagung Tjut Zakiyah mengatakan, diskusi tersebut diharapkan semakin memotivasi pegiat literasi Tulungagung untuk mengembangkan dan meningkatkan budaya literasi di bidang masing-masing. ”Kami ingin sinergi ini mampu memperkuat jejaring-jejaring yang ada. Tanpa sinergi, mustahil kita bisa mencapai tujuan yang sama-sama bermuara pada peningkatan budaya literasi,” pungkas istri Siwi Sang, penulis buku Girindra: Pararaja Tumapel-Majapahit, itu. (pr)

 

 

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Agustus 24, 2014, in Berita. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: