Damai Itu Ada di….


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

 

 

Tak sedikit orang yang merogoh koceknya dalam-dalam demi mencari kedamaian. Ada pula yang depresi berat karena gagal memperoleh apa yang ia sebut damai. Tak pelak damai adalah sesuatu yang amat didamba dalam hidup manusia. Sulitkah mencarinya?

Dari sebuah buku psikologi yang pernah saya baca (maaf lupa judulnya), damai itu berada dalam hati kita sendiri. Di situ bahkan disebutkan bahwa damai itu salah satu kunci kebahagiaan. Artinya, orang yang bahagia pasti hidupnya damai.

Dikatakan pula bahwa orang kaya yang berlimpah harta belum tentu hidupnya serta-merta damai. Karena itu, sebagian kalangan menengah dan profesional muda memilih mengikuti training motivasi dari para motivator kesohor macam Ary Ginanjar dan Mario Teguh.

Tapi, percayalah kawan, hidup ini tak semudah cocote (ucapan) Mario Teguh. Tentu saja para motivator itu bisa merasa tenang dan damai karena sekali tampil honornya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Yang tidak damai itu ya pesertanya yang untuk ikut pelatihan motivasi harus kasbon dulu ke kantor dan mengaku ke istrinya ikut meeting luar kota tapi ternyata istrinya juga ikut training tersebut. Akhirnya, bertemulah keduanya dalam suasana yang jauh dari kata damai. Nyahok loe!

Untunglah, saya terbiasa hidup pas-pasan. Misalnya, tidak ada masalah ketika saya harus tinggal di RSSSSSSSSS (rumah sangat sederhana sekali sehingga serasa sumpek sempit serta sesak). Namun, kere itu bukan berarti tidak boleh keren dan tertinggal informasi.

Agar tak ketinggalan berita, bermodal Rp 3 ribu saya sudah bisa membaca koran plus mengudap dua pisang goreng lengkap dengan segelas kopi tubruk sambil nongkrong dan ditemani ngobrol pemiliknya yang semlohai di warkop Kebonagung, Sukodono. Dunia serasa damai.

Tetapi, sebagai ”orang lapangan”, saya tahu betul bagaimana caranya menemukan damai. Tidak sulit. Silakan perhatikan pos polisi yang sedang mengadakan razia sepeda motor yang tidak menyalakan lampu saat pagi atau siang hari. Di antara pengendara motor yang terjaring razia, pasti ada yang meminta damai dengan anggota korps baju cokelat tersebut.

So, damai itu tak sulit dicari jika kita mau silaturahim ke pos-pos polisi tertentu. Apabila kita mengalami damai empat kali dalam sehari di pos polisi, semoga tidak ada gelas, piring, atau bra melayang saat pulang ke rumah.

 

 

19 Agustus 2014

 

 

 

 

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Agustus 19, 2014, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: