Judul Provokatif Metro TV


Oleh Eko Prasetyo

Jurnalis, mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Unitomo

 

(Tulisan ini dimuat harian Duta Masyarakat, 19 Agustus 2014)

 

Beberapa kali (mungkin juga sering pada suasana pasca-pilpres) Metro TV menurunkan berita yang bernada provokatif. Yang terbaru, melalui situs resminya, Metro TV menghadirkan judul Anggota ISIS Gemar Berkumpul di Masjid. Sumbernya bisa dilihat di http://news.metrotvnews.com/read/2014/08/14/277575/anggota-isis-gemar-berkumpul-di-masjid.

Beberapa saat sebelum salat Jumat (15/8), berita itu masih bisa diakses. Setelah menjadi topik diskusi yang ramai dan sengit di dunia maya, berita ini sudah tidak dapat diakses setelah salat Jumat.

Gegabah. Mungkin kata ini tepat untuk ditujukan kepada redaktur yang menurunkan judul berita tersebut. Entah apa yang ada di benak si redaktur. Yang jelas, judul itu sangat melukai umat Islam.

Seperti diketahui, para lelaki muslim dianjurkan salat berjamaah di masjid. Perintah untuk salat berjamaah ini memiliki dasar yang jelas, yakni Alquran dan hadis Nabi SAW. Alquran menegaskan dalam surat Al Baqarah ayat 43 dan An Nisa ayat 102. Salat berjamaah sangat dititikberatkan karena mempunyai banyak keutamaan.

Berkumpul di masjid juga semestinya dijadikan budaya di kalangan kaum muslim. Di sana bisa dibahas masalah kemaslahatan umat di berbagai bidang seperti ekonomi, budaya, dan pendidikan.

Jadi, masjid jangan hanya dijadikan sebagai tempat salat wajib lima waktu, kemudian pagar dan pintunya ditutup sehingga sepi aktivitas yang bermaslahat. Setiap muslim memiliki tanggung jawab untuk memakmurkan rumah Allah tersebut. Kita semestinya bersikap kritis pula terhadap pembangunan masjid yang megah, tapi kemudian sepi jamaah. Lantas, buat apa masjid mewah didirikan jika saf yang terisi hanya satu deret?

****

ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) memang telah mendatangkan kehebohan di Indonesia. Nun jauh di Iraq sana, para anggota ISIS terkenal dengan kekejaman dan kebrutalannya, bahkan terhadap sesama muslim. Mereka tidak segan-segan membunuh orang yang seideologi dengan ISIS.

Sejak berdiri, Negara Islam Iraq dan Suriah (ISIS) ini melancarkan pengaruhnya di beberapa wilayah Iraq dan Suriah. Di wilayah Iraq Utara, penganut Nasrani bahkan dipaksa untuk menjadi anggota ISIS atau pilihannya dibunuh. Alhasil, korban pun berjatuhan akibat tindakan ISIS.

Yang mengerikan, ISIS menculik anak-anak di bawah umur di wilayah Suriah untuk dijadikan anggota dan melaksanakan misi bom bunuh diri di Iraq. Iming-iming mati syahid dengan balasan jannatun na’im (surga yang penuh kenikmatan) diberikan kepada mereka (Tempo, 7/8).

Paling gres, foto seorang anak memegang kepala seseorang yang dipenggal dan ia begitu bangga menunjukkannya di depan ayahnya yang merupakan anggota ISIS. Si anak diketahui berasal dari Sydney. Alhasil, perdana menteri Australia langsung bereaksi bahwa itu adalah foto paling sadis dan sangat mengguncang. Perekrutan anak-anak untuk menjadi martir tentu tidak bisa dibenarkan.

Dunia pun mengecam keras kekejaman ISIS. Tak terkecuali pemerintah Indonesia yang didukung Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Sebuah gerakan kekerasan seperti yang ditunjukkan ISIS bisa dikatakan jauh dari nilai-nilai dan ajaran Islam. Bahkan, Nabi Muhammad SAW tidak pernah menganjurkan untuk berbuat brutal kepada orang lain yang berbeda akidah sekalipun. Pemaksaan kepada orang lain untuk mengikuti agama yang dianut pun tidak ada dalam ajaran Islam.

Dakwah yang dicontohkan Rasulullah SAW mengedepankan kebaikan yang ditunjukkan dalam ucapan dan sikap akhlakul karimah. Maka, kendatipun melabeli diri sebagai negara Islam, ISIS jelas tidak mewakili cerminan Islam sama sekali. Justru tindakan mereka sangat memojokkan Islam di mata dunia sehingga menambah anggapan bahwa Islam itu lekat dengan tindakan terorisme.

Apabila ditarik lebih jauh, ISIS malah menguatkan penilaian bahwa kemunculan mereka lebih bersifat politis. Artinya, show of force yang mereka tunjukkan saat ini di Iraq dan Suriah kental dengan nuansa politik dibandingkan agama.

Karena itu, sudah selayaknya pemerintah bersikap tegas terhadap ISIS. Upaya antisipasi terhadap tumbuhnya gerakan ini di tanah air memang perlu dilakukan, namun harus cermat dan tidak menimbulkan kesan politis di tahun politik seperti sekarang.

***

Kembali ke persoalan judul provokatif terkait ISIS di situs Metro TV tersebut, hal ini bisa disebut fatal karena terkesan gebyah uyah terhadap umat Islam. Berkumpul di masjid bagi umat Islam itu kewajiban. Maka, apabila si redaktur itu memeluk agama Islam, ia menelanjangi dirinya sendiri yang mungkin jarang salat di masjid.

Di luar itu, agaknya ia perlu belajar lagi tentang kode etik jurnalistik dan prinsip-prinsip bahasa jurnalistik. Atau, Metro TV akhir-akhir ini memang suka menyulut provokasi? Semoga tidak.

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Agustus 15, 2014, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: