Resep Bahagia


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Selasa hari ini (12/8) aktor Hollywood Robin Williams dikabarkan tewas bunuh diri di kediamannya di California, Amerika Serikat. Apakah yang bersangkutan stres karena distribusi buku kurikulum 2013 belum merata? Ndak mungkin!

Ataukah ia depresi melihat betapa bodohnya para siswa yang meminta jampi-jampi dari air Ponari, sementara Ponari tidak lulus UN SD pada 2012? Jelas lebih nggak mungkin! Yang pasti, bintang film Jumanji dan Night at Museum itu diduga mengalami depresi sehingga mengambil jalan pintas berupa bunuh diri. Namun, kepolisian setempat diberitakan masih menyelidiki motif di balik dugaan bunuh diri tersebut.

Depresi berat memang rawan membuat seseorang kehilangan akal sehat. Ujungnya, bunuh diri dinilai sebagai keputusan yang tepat. Jika dilihat lebih jauh, Robin Williams tentu bukan orang yang kekurangan harta.

Ia baru saja membintangi sekuel ketiga film Night at Museum dan masih berperan sebagai Theodore Rossevelt. So pasti bayarannya lebih dari cukup untuk melunasi cicilan rumah saya yang baru lunas enam tahun lagi. Dengan kapasitasnya sebagai aktor terkenal dan kaya, Robin Williams tak perlu khawatir jika ingin sarapan tiap pagi di Warung Bandeng Pak Elan, Gresik. Bagi saya, sarapan di Warung Bandeng Pak Elan baru bisa terwujud jika ada pengurus IGI yang mentraktir.

Ya, kasus Robin Williams membuktikan bahwa uang bukan penjamin kebahagiaan. Entah masalah apa yang mendera Robin hingga ia depresi dan nekat mengakhiri hidupnya. Padahal, saya yakin ia tidak akan kekurangan beras tiap bulan seperti sering saya alami. Ternyata, harta melimpah tidak lantas membuat seseorang merasa bahagia. Maka jelas sudah bahwa bahagia tidak bisa dibeli atau diukur oleh materi.

Semasa hidup, Mbah Kung pernah memberikan petuah bahwa resep bahagia itu bukan fulus, tapi mensyukuri hidup. Bersyukur atas apa pun yang diberikan dan dikaruniakan Tuhan kepada kita.

Ternyata nasihat beliau benar juga. Kendati duit di dompet tinggal sepuluh ribu, saya bisa menemukan kebahagiaan saat ngopi di warkop pinggir jalan, apalagi jika dibayari oleh Cak Yasin atau Om Roy.

Saya juga tidak khawatir akan kehilangan sandal lagi di masjid ketika shalat Jumat, dengan catatan saya memakai sepatu. Saya juga tak panik ketika nyonya tiba-tiba mengeluh uang belanja habis karena pegadaian adalah sekolah terbaik bagi dua BPKB kendaraan saya.

Satu-satunya kepanikan yang sempat saya alami baru-baru ini hanya tidak adanya daleman yang muat setelah Lebaran kemarin. Untunglah, masih ada punya nyonya dengan ukuran yang lebih fluktuatif. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak bersyukur. Terima kasih ya Rabb atas segala nikmat-Mu….

12 Agustus 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Agustus 12, 2014, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: