WC Dempet


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Ini pengalaman tak terlupakan saat menjadi pengantin baru dulu. Saya memboyong nyonya ke Surabaya dan kos di tempat yang sangat sempit di kawasan Jambangan. Kamarnya hanya berukuran 2 x 3.

Ada tujuh deret tempat kos di situ dengan kamar mandi dalam. Kalau mengobrol, suaranya pasti terdengar di radius beberapa meter saja. Saya bersyukur karena nyonya yang sebelumnya terbiasa hidup sangat nyaman mau menerima kondisi itu.

Nggak enaknya, jika hohohihe, suara tempat tidur kami berderit-derit. Hamput, ingin mewek bombay rasanya. Lak yo isin se kalau para tetangga terganggu dengan suara unjuk karya di keheningan malam seperti itu.

Namun, ada yang lebih menyiksa. Yakni, kamar mandi kami yang terletak berdempetan dengan kos tetangga sebelah. Ini sangat tidak nyaman. Saat ngepup, saya mesti mampu mengatur ritme jika kebelet (maaf) kentut. Sebab, jika kebablasan, suaranya pasti terdengar.

Psikologis saya betul-betul terganggu. Saya tidak ingin kemerdekaan untuk ngentut saja menjadi terampas. Di sisi lain, rasanya jengkel sekali jika pas menikmati sarapan, kemudian terdengar suara memekakkan telinga di WC sebelah. Gimana tubuh mau semok kalau selera makan selalu hilang dalam medan berat seperti ini?

Namun, selalu ada hikmah dalam suatu kesulitan. Misalnya, saya bisa lebih mengatur ritme saat hendak mengeluarkan ”bom” tak kasat mata itu agar tidak mengeluarkan suara yang mengentak.

Apesnya, keterampilan tersebut tidak muncul di saat yang amat krusial. Saat acara sungkem dengan keluarga di Pekalongan lalu, saya mendadak mengalami sakit perut. Untuk sowan ke WC, momennya sudah tidak memungkinkan. Semua saudara sudah berada dalam barisan rapi untuk bergiliran sungkem ke bapak serta ibu.

Ini pasti berkat lontong kupat yang pedasnya sensasional itu, pikir saya. Menjelang giliran saya dan nyonya, aib itu pun tak terbentung. Saya sebenarnya sudah berhasil meredam suara kentut, tapi baunya yang ampun-ampunan tersebut gagal dicegah.

Suasana ruang keluarga sontak terdiam. Semua mencoba saling memahami situasi dan tidak buru-buru berpikir untuk menggugat ke MK. ”Om, kentutnya bau banget sih…!” ujar salah satu keponakan tiba-tiba sambil menunjuk ke arah saya. Cuk, arek iki eroh teko endi?!

8 Agustus 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Agustus 8, 2014, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: