Menyorot Puisi Plagiat oleh Pelajar SMA di Jambi Today


Oleh Eko Prasetyo

Jurnalis, mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Unitomo Surabaya

SENJA DI PELABUHAN KECIL
buat: Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

(1946)

***

Sumber: FB Grup Ikatan Guru Indonesia.

Sumber: FB Grup Ikatan Guru Indonesia.

Puisi di atas adalah salah satu karya penyair Chairil Anwar pada 1946. Puisi ini kemarin (7/8) menjadi perbincangan di media sosial berkat status Titas Suwanda, guru bahasa Indonesia SMPN 26 Muaro Jambi. Sang guru membongkar praktik plagiarisme yang dilakukan seorang siswi SMAN 5 Kota Jambi bernama Yulika Syahfitri.

Berikut kutipan lengkap status Titas Suwanda di akun Facebook-nya.

”Saya kaget setelah baca koran Jambi Today terbitan hari ini, Kamis 7 Agustus 2014. Di halaman 10 yang bertajuk Arena Creative School dan memuat profil serta karya-karya siswa di Jambi, di pojok kanan bawah terdapat kolom yang memuat puisi karya siswi SMAN 5 Kota Jambi bernama Yulika Syahfitri lengkap dengan poto siswi tersebut. Hal yang membuat saya kaget adalah puisi yang dimuat adalah puisi berjudul Senja Di Pelabuhan Kecil yang setahu saya adalah karya seorang penyair ternama Indonesia yakni Chairil Anwar. Saya pikir si siswi nekat betul.. Terusss… si penanggung jawab atau si redaktur koran bodoh betul….”

***

Kasus plagiarisme di dunia pendidikan sebenarnya bukan hal baru. Sebagian pelakunya bahkan adalah akademisi. Pada 20 November 2008, opini dosen STIH YAPPAS Lubuksikaping yang bernama Zennis Helen dimuat di Padang Ekspres (Jawa Pos Group). Judulnya Relasi Ideal Presiden-Parlemen. Setelah ditelusuri, opini tersebut ternyata plagiat dari opini milik Denny Indrayana di Kompas pada 15 November 2008 dengan judul Presiden dan DPR, Sekutu atau Seteru.

Pada 10 Februari 2014, giliran opini Gagasan Asuransi Bencana oleh Anggito Abimanyu di Kompas yang bikin heboh. Artikel tersebut ternyata plagiat dari Menggagas Asuransi Bencana karya Hatbonar Sinaga di Kompas pada 21 Juli 2006. Sontak publik mengecam. Anggito pun mundur sebagai dosen UGM.

Namun, pada kasus plagiarisme di Jambi Today pada Kamis, 7 Agustus 2014, menjadi berbeda karena pelakunya seorang pelajar SMA. Tentu tindakannya yang mencomot karya seorang maestro bisa dibilang sangat bodoh. Sebab, pada saat ini tidaklah terlalu sulit mengecek kesahihan suatu karya tulis di mesin pencari macam Google dan literatur online.

Belajar dari kasus ini, para redaktur halaman budaya dan sastra harus lebih cermat dan teliti. Kroscek ulang harus dilakukan terhadap siapa pun penulisnya tanpa memandang gelar dan jabatannya. Pada puisi Senja di Pelabuhan Kecil yang dimuat di Jambi Today, tampak sekali bahwa redakturnya abai, baik dalam mengecek karya maupun editing. Di judulnya tertulis Senja Dipelabuhan Kecil. Kesalahan penulisan kata ”di” yang dirangkai dengan ”pelabuhan” menunjukkan redakturnya lagi-lagi tidak cermat (untuk tidak menyebut malas).

Terhadap penulisnya (Yulika Syahfitri), peran pendidik sangat dibutuhkan. Terutama dalam menyosialisasikan dampak dan akibat yang ditimbulkan dari perbuatan plagiat. Plagiarisme dalam bentuk apa pun tidak bisa dibenarkan. Di lingkungan pendidikan, tindakan ini dapat disebut sebagai sebuah kejahatan intelektual. Merampok karya orang lain yang diakui sebagai hak intelektual diri sendiri.

Di sisi lain, media massa yang menyediakan ruang publik untuk karya-karya pelajar sebenarnya patut diapresiasi. Ketika media cetak nasional seperti Kompas, Tempo, Republika, dan Jawa Pos menjadi barometer publik pada rubrik budaya, tentu banyak pihak sadar dan beranggapan bahwa karya sastra yang dimuat di harian itu pasti memiliki kualitas yang baik. Tak heran jika persaingan untuk menembus ke sana tidak gampang karena seleksi ketat yang dilakukan.

Maka, para penulis pemula pun mengalihkan asa pada media lokal yang dianggap mampu menampung karya-karya tulis yang sulit menembus media mainstream. Namun, seleksi atau pengecekan untuk menjaga kredibilitas media dan karya tulis tetap harus dilakukan.

Kita berharap kasus plagiat oleh pelajar ini tidak terjadi lagi. Sebab, merekalah pemegang estafet kepemimpinan negeri ini di masa mendatang. Cukup sudah Indonesia disemati julukan negeri para koruptor, jangan ditambahi lagi menjadi negeri para plagiator.

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Agustus 8, 2014, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: