Kenangan Bersama Almarhum Rukin Firda


Catatan Eko Prasetyo

SAHABAT: Almarhum (tengah) bersama Much. Khoiri dan Suhartoko (kanan) saat diskusi naskah buku Boom Literasi di Graha Pena Surabaya, 14 April 2014. (Dok. Eko Prasetyo)

SAHABAT: Almarhum (tengah) bersama Much. Khoiri dan Suhartoko (kanan) saat diskusi naskah buku Boom Literasi di Graha Pena Surabaya, 14 April 2014. (Dok. Eko Prasetyo)

“Dik Eko, aku nitip tulisan satu ya. Kalau nggak dimuat, nggak apa-apa karena memang sudah lewat deadline….”

Kalimat itu meluncur dari Pak Rukin Firda, redaktur olahraga Jawa Pos. Ia ingin bergabung dalam proyek buku Boom Literasi: Menjawab Tragedi Nol Buku yang dihimpun kawan-kawan pegiat literasi alumni Unesa (IKIP Surabaya).

Pak Rukin memang terlambat dua hari setor tulisan. Sejak ikut menulis di buku “Pena Alumni; Membangun Unesa Melalui Budaya Literasi” dirilis Desember 2013, Pak Rukin kian getol mengampanyekan budaya menulis. Di buku Boom Literasi, ia kembali mengingatkan pentingnya menulis. Judulnya lumayan angker: Menulislah atau Menjomblo Seumur Hidup.

Ia merupakan wartawan senior Jawa Pos yang kerap diundang sebagai narasumber dan pelatih jurnalistik. Mungkin karena mengalir darah guru, cara mengajarnya enak dan ini diakui banyak guru (termasuk anggota IGI). Sebagai jurnalis, ia kawakan. Masuk Jawa Pos pada 1989, Pak Rukin pernah merasakan digembleng langsung oleh Dahlan Iskan.

Di redaksi Jawa Pos, kami sangat dekat dan sering berdiskusi. Kawan diskusi lainnya adalah Pak Ahmad Zaini (Zen), mantan redaktur opini yang kini dosen di Universitas Ronggolawe (Uniro) Tuban. Cerita yang selalu kami ingat adalah bagaimana Pak Bos Dahlan Iskan murka sampai membanting keyboard komputer redaktur yang halamannya melanggar deadline. Soal disiplin, Pak Dahlan memang bukan main. Ia bahkan pernah menyikat toilet redaksi yang ia nilai masih kotor. Kontan tindakannya bikin petugas cleaning service gemetar, gentar, cetar, dor, dan entah apa lagi. Pak Rukin selalu kagum dengan sikap disiplin Dahlan.

Karena itulah, sejatinya Pak Rukin pernah berharap Pak Dahlan bisa maju capres karena punya leadership dan kinerja yang baik. Soal kecerdasan, Dahlan juga pilih tanding meski tidak lulus S-1. Ia menguasai bahasa Mandarin setelah belajar hanya tiga bulan. Bahasa Inggrisnya juga bagus walau medok Jawanya masih lekat. Sungguh, Pak Rukin sangat berharap Pak Bos bisa maju capres kendati akhirnya kandas lantaran suara Demokrat (walau menang di konvensi capres Demokrat) jeblok di Pileg 2014.

Pak Rukin akan purnatugas di Jawa Pos pada 2016. Setelah itu ia dikabarkan akan mengabdi di jurusan S-1 Komunikasi Unesa. Di Unesa, nama Pak Rukin harum. Bersama Prof Luthfiyah, ia berjihad di program SM-3T. Suatu malam, Pak Rukin memanggil saya ke mejanya. Ia menunjukkan foto-foto jurnalistik hasil jepretannya di Sumba Timur, NTT. Ia memang ditugasi Jawa Pos untuk meliput khusus SM-3T angkatan pertama di Sumba Timur waktu itu. Di satu sisi, ia mengaku sedih melihat ketertinggalan di sana di bidang pendidikan. Di sisi lain, ia takjub dengan keindahan alam Sumba Timur.

Sebelumnya, ia ditugasi ke Amerika Serikat. Lalu setelah meliput di NTT, ia berangkat ke Tiongkok untuk membuat laporan tentang kehidupan muslim di sana. Di antara penugasannya ke luar negeri, kepada saya, Pak Rukin mengaku sangat terkesan saat meliput dunia pendidikan di New Delhi, India. Passion-nya di pendidikan memang sangat besar.

Ketika memutuskan kuliah lagi di S-2 Komunikasi Unitomo, ia bilang bahwa ilmu itu penting. Pak Rukin lulus cum laude dengan IPK 4,0.

Terakhir saya bertemu Pak Rukin di kantor humas Unesa ketika merancang gagasan portal berita berbahasa Suroboyoan, Jowo Pas, yang merupakan pelesetan dari Jawa Pos. Sebelum itu, kami berjumpa di acara dialog literasi di PPPG Unesa yang reportasenya saya tulis di harian Surya. Pak Rukin memang sedang bersemangat menggelorakan budaya literasi melalui almamater tercinta.

Saat makan siang di PPPG Unesa, Pak Rukin sempat membahas IKA Unesa ke depan. “Aku titip Dik….”

Masya Allah, saya tak menyangka itu merupakan firasat terakhir. Dan semua hamba Allah akan berpulang kepada-Nya.

Sabtu pagi (2/8/2014) kabar mengejutkan itu datang. Pak Rukin yang mengendarai motor Honda Vario tersenggol bus Sumber Kencono hingga hilang keseimbangan di kawasan Waru, Sidoarjo. Ia lantas terjatuh dan kepalanya terlindas ban belakang bus. Pak Rukin dilaporkan tewas.

Setelah dibawa ke RS Siti Khadijah Sidoarjo, almarhum kemudian disemayamkan di rumah duka di Tanggulangin, Sidoarjo. Almarhum wafat dalam usia 48 tahun, meninggalkan seorang istri dan tiga anak. Putri sulung almarhum mengikuti jejaknya sebagai jurnalis di Radar Surabaya (JP Group)

Innalillahi wainna ilaihi rajiuun. Selamat jalan Pak Rukin. Semoga Allah memberi tempat terbaik dan melapangkan kuburmu. Saya menjadi saksi atas kebaikan dan kegigihanmu dalam memperjuangkan sesuatu yang memang harus diperjuangkan. Ya Allah, ampunilah segala kesalahan kakak dan sahabat kami ini. Terangilah kuburnya seperti di taman surga. Innalillahi wainna ilaihi rajiiun.

3 Agustus 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Agustus 5, 2014, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: