Mudik (2)


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Secara khusus, saya mesti berterima kasih kepada nyonya. Sebab, ia mampu mengubah saya dari pemuda katrok menjadi lebih dinamis. Semula, saya mengira bahwa ”surga” itu ada di Surabaya. Ternyata, saya melihat ”surga” yang lain, yakni Pekalongan.

Betul, di sinilah peran penting menikah dengan orang rantau dan manfaat mudik Lebaran. Dengan pulang kampung dalam momen Idul Fitri, cakrawala kita akan lebih terbuka. Mudik itu seni kehidupan. Karena itu, saya sebenarnya merasa kasihan kepada kawan-kawan yang mudiknya tak lebih dari 15 kilometer alias masih satu kota.

Kalau si suami berasal dari Surabaya dan istrinya sama-sama asli Surabaya, sampai kapan pun mereka akan membeli batik lebih mahal dua kali lipat ketimbang saya. Pasalnya, harga batik Pekalongan yang dijual di mal-mal di Kota Pahlawan itu memang sudah dua atau tiga kali lipat lebih mahal dibandingkan harga aslinya di Kota Batik.

Jika si istri asli Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, dan suaminya asal Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, entah kapan mereka bisa membedakan batik Kota Pekalongan dengan batik Kabupaten Pekalongan. Mesakke. Apa bedanya sama saya.

Satu lagi yang bikin saya jatuh hati pada Pekalongan adalah bahasa ngapak. Saya merupakan arek Suroboyo yang besar di Bekasi dari orang tua yang asli Jawa Timur. Maka, ketika saya mendapat jodoh cah Pekalongan, ini menjadi shock culture.

Mertua saya asli Tegal sehingga saya harus berjuang keras untuk mendalami dan memahami bahasa ngapak dialeg Tegal. Di kemudian hari saya baru tahu bahwa bahasa ngapak halus untuk menyebut kulo (saya) adalah nyong’e. Dengan pengucapan khas yang mirip leher tercekik, terbayang sudah bagaimana saya terpingkal-pingkal kalau mendengarkannya.

Dulu, saat awal menaksir nyonya, saya langsung sadar bahwa hal pertama yang mesti saya lakukan untuk menaklukkan hatinya adalah kuasai bahasanya! Maka, kalimat sakti yang saya persiapkan buat nyonya adalah gombalan ala Tegal. Kira-kira bunyinya mirip kalimat ini: Haji Mujidin bae wis sadar. Masa koe ke ora sadar nek nyong tresna karo koe seh.

Sidoarjo, 26 Juli 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 25, 2014, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: