Pilihan yang Salah


Catatan Eko Prasetyo

penulis pemula

Kejutan! Semifinal Piala Dunia 2014 yang mempertemukan Der Panzer Jerman versus tuan rumah Brazil melahirkan rekor. Bomber Jerman Miroslav Klose menorehkan sejarah baru sebagai pencetak gol terbanyak di Piala Dunia dengan 16 gol. Melampaui legenda Brazil Ronaldo Luiz Nazario da Lima.

Laga yang digeber di Belo Horizonte itu di luar dugaan didominasi Jerman. Di babak pertama saja, Jerman mampu unggul 5-0 lewat dua gol Toni Kroos dan satu gol masing-masing oleh Thomas Mueller, Miroslav Klose, serta Sami Khedira. Hebatnya, tiga gol Der Panzer diceploskan dalam waktu hanya tiga menit.

Para pendukung Brazil pun dibuat menangis. Di babak kedua, kegarangan Jerman belum berhenti. Striker yang bermain di Chelsea, Andre Schuerle, dua kali membobol gawang Brazil. Tuan rumah hanya mampu memperkecil keadaan lewat kaki Oscar pada menit ke-90. Skor 7-1 untuk kemenangan Jerman.

Pelatih Brazil Luis Felipe Scolari langsung menyatakan bahwa kekalahan memalukan itu merupakan tanggung jawabnya. Tentu saja ia sadar konsekuensi dari skor mencolok tersebut adalah mundur dari kursi kepelatihan. Jerman akan menghadapi pemenang laga semifinal lainnya Belanda versus Argentina.

*****

Euforia Piala Dunia 2014 di Brazil memang terasa sampai Indonesia. Penggemar sepak bola di tanah air sejenak bisa melupakan hiruk-pikuk berita-berita politik seputar pilpres. Belum lagi persoalan perusahaan pers yang dipakai sebagai alat politik oleh para pemiliknya. Akibatnya, berita yang disajikan menjadi tidak berimbang lagi.

Kepentingan pembaca terpinggirkan oleh kepentingan media yang mengumbar syahwat politik pemiliknya. Walhasil, sajian berita pun jadi membosankan. Mencari alternatif tontonan pun tidak mudah. Jam-jam tayang premier didominasi tayangan tak bermutu yang memamerkan adegan pukul-pukulan stirofom, menghina fisik seseorang, dan tindakan merendahkan martabat manusia lainnya.

Maka, Piala Dunia 2014 menjadi hiburan tersendiri selain untuk melepas dahaga kerinduan akan prestasi persepakbolaan tanah air. Banyak nilai sportivitas yang bisa diambil di gelaran akbar pesta sepak bola sejagat ini. Contohnya, tidak boleh ada rasisme. Perhatikan pula, saat Brazil kalah telak 1-7 di akhir laga, ada anggota tim Jerman yang menghiburnya. Anggota kedua tim pun tetap bersalaman satu sama lain. Tidak ada dendam.

Karena itu, dalam suasana pilpres yang mencapai puncaknya pada 9 Juli 2014 ini, masyarakat Indonesia bisa belajar pada laga-laga di Piala Dunia 2014. Pilihan boleh berbeda, tetapi persatuan dan kesatuan tetap utama.

Tak perlu ada kecaman dan kecewaan mendalam apabila calon yang dijagokan kalah. Siapa pun pemenangnya nanti patut kita dukung kendati bukan tokoh yang kita usung. Prabowo Subianto atau Joko Widodo merupakan pilihan terbaik bangsa saat ini. Jadi, kalau Anda memilih salah satu di antara keduanya, itu sudah benar. Tidak salah. Yang salah adalah mereka yang berharap ada gambar Najwa Shihab di kertas pemilu.

Sidoarjo, 9 Juli 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 9, 2014, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: