Mengundang Pelaku Penerbitan


Catatan Eko Prasetyo

Tiga hari terakhir, kondisi Bu Sirikit Syah drop. Minggu pagi lalu (6/7) sejatinya ia mengundang Mas Polo, manajer pemasaran JP Books, ke kelas Sirikit School of Writing (SSW). Lantaran belum fit, Bu Sirikit meminta saya dan Cak Amin (manajer SSW) datang mendampingi Mas Polo dan para peserta dan alumni SSW hari itu.

Sebenarnya tanpa beliau minta, saya sudah berniat datang untuk menimba wawasan penerbitan dari JP Books. Apalagi, saya berjanji ikut kepada teman-teman alumni kelas buku populer. Hari itu sebenarnya tidak ada kelas reguler, kecuali kelas fiksi anak-anak yang dipandu Cak Amin.

Pekan sebelumnya Bu Sirikit berinisiatif mengundang pelaku penerbitan untuk membuka cakrawala para alumni SSW seputar dunia publikasi buku. Ada sekitar 17 alumnus SSW yang hadir. Yang istimewa, salah seorang ”bimbingan” saya, Pak Rohmat Qosyim (guru) datang jauh-jauh dari Tuban. Di kelas buku populer angkatan kesembilan yang superkompak itu, Pak Rohmat memang termasuk militan. Dalam enam kali pertemuan tatap muka, hanya sekali ia absen. Itu pun karena ada tugas sekolah.

Komunitas Perempuan Menulis (Korelis) yang juga alumni SSW diwakili Mbak Tantri, Rani, dan Mbak Wiwin (ketua). Tampak pula dr Herin (dosen FK Univ. Hang Tuah) dan dr Laila (pegiat kesehatan di eks Lokalisasi Kremil). Mahasiswi kesayangan Bu Sirikit juga terlihat hari itu, yakni Astrid. Perempuan muda yang bekerja di perusahaan desain interior ini bisa dikatakan binaan sukses SSW. Ia menjadi copywriter buku perusahaan klinik kecantikan Miracle dan ikut menulis buku pengacara kondang Trimulya D. Suryadi.

Pagi itu juga menjadi reuni antara saya dan senior saya, Mbak Ayun, mantan wartawati tabloid Nyata yang kini dipercaya Pak Arief Afandi (mantan Wawali Surabaya) sebagai redaktur senior di tabloid baru khusus untuk segmen muslimah. Mas Sholeh, PNS Kemenag Sidoarjo, juga hadir. Saking semangatnya, ia datang pukul 08.30, padahal acaranya baru digeber pukul 10.00. Masih banyak lainnya seperti Pak Philip Latief (pengusaha), Pak Tasrifin (akademisi), Pak Zulfi (kolumnis), Mas Purnomo (penulis buku anak), Mbak Sisca (dosen Univ. Hang Tuah), Bu Sri Budi (guru SMAN 1 Manyar, Gresik), dan Bu Ambar (guru SMAN 1 Gedangan, Sidoarjo).

Karena Mas Polo belum hadir pukul 10.00, saya mempersilakan para peserta memperkenalkan diri. Rupanya Mas Polo kesasar di kampus lama sehingga perjalanannya ke TKP molor setengah jam. Setelah tiba, Mas Polo membawa tumpukan buku-buku terbitan JP Books.

Mungkin karena belum siap materi, Mas Polo tampak grogi di awal. Karena itu, saya melontarkan beberapa pertanyaan untuk memancing ia membuka dapur perusahaan. Misalnya, bagaimana naskah yang memenuhi kriteria JP Books, penerimaan naskah, kerja sama penerbitan, dan pembagian royalti penulis.

Setelah diskusi mulai hangat, baru saya mempersilakan para peserta untuk bertanya kepada Mas Polo. Hampir semua peserta memberikan berondongan pertanyaan tentang naskah kepada Mas Polo. Mas Polo bilang, di JP Books ada tiga jenis penerbitan. Yakni, publishing murni, co-publishing, dan fifty-fifty.

Publishing murni adalah penerbitan yang biayanya sepenuhnya ditanggung JP Books. Mulai proses redaksional hingga distribusi buku. Di sini penulis hanya kirim naskah dan menerima royalti minimal enam bulan sekali apabila naskahnya diterbitkan.

Co-publishing ialah penerbitan buku yang pendanaannya berasal dari si penulis. Kemudian JP Books memproses penerbitannya hingga pendistribusiannya ke toko-toko buku. Sementara fifty-fifty adalah penerbitan yang biayanya ditanggung oleh kedua pihak, yaitu JP Books dan penulis.

Mas Polo juga mengingatkan kami untuk mengirimkan naskah dalam bentuk hardcopy ke JP Books. Alasannya, kalau naskah berupa softcopy, pihaknya khawatir ada penyalahgunaan di internal redaksi. ”Ini pernah terjadi dan dilakukan oleh oknum editor kami,” ucapnya blak-blakan.

Diskusi yang berlangsung satu setengah jam itu rasanya berakhir begitu cepat. Masing-masing di antara kami membawa segepok wawasan baru tentang penerbitan dan setangkup harapan untuk berkarya. Saya kira, pembekalan materi yang mendatangkan tokoh penerbitan ini sangat bagus dan implementatif di SSW.

Usai acara, giliran saya berkonsolidasi dengan rekan-rekan alumni angkatan kesembilan dan kesepuluh yang sedang memproses buku antologi mereka. Tak lupa, saya dan Cak Amin menjajaki kemungkinan kerja sama antara SSW dan JP Books atau bahkan CV milik Mas Polo pribadi terkait proyek-proyek penulisan dan penerbitan di lingkup pendidikan. Pagi hingga siang itu terasa segar sekali. Terutama karena banyak peserta yang sedap dipandang.

Sidoarjo, 8 Juli 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 9, 2014, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: