Literasi Warung Kopi


Tjatatan Must Prast

Beberapa waktu belakangan, topik literasi menjadi perbincangan hangat. Termasuk mewarnai opini-opini di media dan diskusi di milis. Tapi, yang mengangkat dan mengupas tema tersebut adalah orang-orang intelektual dan akademisi.

Bagi kaum marginal seperti saya, literasi ialah cara mensyukuri nikmat Tuhan dengan menikmati hidup. Bagaimana bentuknya?

Ya dengan nongkrong di warung kopi. Lalu memesan kopi tubruk sembari mencomot tahu berontak (tahu isi) atau rondo royal (tape goreng). Kemudian membaca berita dan iklan gadget di koran. Dengan modal hanya Rp 5.000, sudah bisa menikmati kopi tubruk, tahu berontak, plus bonus baca koran. Kalau sudah begini, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

Kalau saya disuruh membaca sesuatu yang ribet-ribet tentang literasi dengan segala teori dan diskursusnya yang melip-melip itu, otak saya sudah ndak mampu mencerna. Padahal, di luar sana banyak wong cilik seperti saya yang ndak kuat disuruh mikir berat-berat. Boro-boro disuruh baca buku, yang ada di benak hanya bagaimana besok bisa menyambung hidup. Jika demikian, buat apa mereka ngomong berbusa-busa tentang literasi apabila tidak menyentuh kaum marginal seperti kami?

Kalaupun punya uang Rp 50 ribu saja, rakyat kecil bisa merasa gembira bukan kepalang. Bisa disayang-sayang. Rasanya eman jika dipakai buat beli buku. Lebih baik dipakai Rp 5.000 untuk ngopi dan beli tahu berontak sambil baca koran. Sisanya disimpan untuk beli beras beberapa liter.

Lantas bagaimana sebaiknya gerakan literasi itu? Ya, menyentuh semua kalangan, termasuk mereka yang tergolong tidak mampu secara ekonomi. Hakikat literasi bukan hanya persoalan cara memahami teks, tetapi memunculkan keterampilan hidup.

Nah, dengan nongkrong di warung kopi, saya bisa melihat banyak kehidupan yang tak bisa disawang hanya lewat kaca mobil saja. Dengan menghirup aroma kopi dan menikmati tiap seruputannya, ide bisa keluar spontan dari benak. Mencoba mempertahankan paham bahwa uang Rp 5.000 yang keluar dari kantong tadi sebisa-bisanya tidak boleh sia-sia.

Tulisan saya yang dimuat di koran nasional hari ini (26/6) membawa konsekuensi honor yang nilainya berlipat-lipat dari biaya ngopi itu. Dan gagasan menulis tema artikel itu saya dapat dari cangkrukan di sebuah warung kopi pinggir jalan. Matur nuwun Gusti Pengeran!

Sidoarjo, 26 Juni 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juni 26, 2014, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: