Jatim Pusat Literasi


Surya
Rabu, 25 Juni 2014 18:59 WIB
Jatim Pusat Literasi

Oleh : Eko Prasetyo
Penulis/editor
editor.eko@gmail.com

DUA tahun kiprah Sirikit School of Writing (SSW) ditandai dengan pendeklarasian Jawa Timur sebagai pusat gerakan literasi nasional. Kegiatan yang mendapat dukungan Pemprov Jatim dan Pemkot Surabaya itu dipusatkan di Telkom Ketintang, Surabaya, Minggu (15/6) lalu.

Direktur Utama SSW Sirikit Syah mengatakan, Indonesia dapat mencapai peradaban yang lebih maju jika memiliki budaya literasi yang baik. Deklarasi tersebut dilakukan bersama para pegiat literasi dan tokoh pendidikan dari berbagai lembaga dan organisasi. Di antaranya, Unesa, Telkom Indonesia, Jaringan Literasi Indonesia, Ikatan Guru Indonesia, ICMI Jatim, Eureka Academia, dan Indonesia Menulis.

Hadir pula sastrawan Suparto Brata yang mendukung kegiatan positif ini dan berharap agar masyarakat semakin peduli terhadap budaya literasi. Para tokoh tersebut ikut menandatangani semangat dan komitmen untuk memajukan literasi di tanah air. ”Ini merupakan tugas dan tanggung jawab kita bersama. Jadi, ke depan diharapkan spirit ini mampu menular ke daerah-daerah lain,” tegas Sirikit.

Selepas deklarasi, acara dilanjutkan dengan seminar yang bertajuk memajukan peradaban bangsa melalui penciptaan iklim literasi. Tiga narasumber yang dihadirkan adalah sejarawan Dukut Imam Widodo, Wakil Rektor III Unesa Prof Dr Warsono MS, dan Direktur PPG Unesa, Prof Dr Luthfiyah Nurlaela.

Dukut mengingatkan bahwa menulis dan membaca merupakan satu mata rantai yang tidak boleh terputus. ”Seorang penulis harus doyan membaca. Setelah membaca, lakukan riset yang benar agar karya kita dapat dipertanggungjawabkan,” tutur penulis buku Soerabaia Tempo Doeloe dan Malang Tempo Doeloe itu.

Jika menulis bagi Dukut ialah pekerjaan, sebaliknya Luthfiyah menganggap kegiatan itu sebagai hobi. ”Di tengah aktivitas yang begitu padat, menulis mampu menyembuhkan dan membebaskan. Tak heran jika menulis bisa membuat seseorang awet muda,” ucap perempuan yang telah menulis lebih dari delapan judul buku itu.

Sementara Warsono menyampaikan, setiap penulis merupakan bagian dari sejarah. ”Sehingga peradaban suatu bangsa tak bisa dilepaskan dari karya tulis atau sejarah yang tercatat di dalamnya. Bangsa yang maju adalah bangsa yang berbudaya literasi,” paparnya.

Di akhir acara, diluncurkan buku Boom Literasi: Menjawab Tragedi Nol Buku yang diwakili tim editor, Much Khoiri dan Suhartoko. Diharapkan buku tersebut mampu memberikan inspirasi bagi masyarakat luas.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juni 25, 2014, in Berita. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: