Ketika Perempuan Memasyarakatkan Literasi


Oleh Eko Prasetyo

Jurnalis dan editor buku

 

(Dimuat di harian Rakyat Sumbar, 21 Juni 2014)

 

Buku Hidup Ini Indah BeibJudul            : Hidup Ini Indah, Beib

Penulis         : Evie Suryani dkk

Penerbit        : Satu Kata Book@rt Publishing

Cetakan       : I, Mei 2014

Tebal            : 259 halaman

Gairah untuk menumbuhkan budaya literasi di tanah air tak bisa dilepaskan dari peran banyak kalangan dan komunitas. Ambil contoh di Kota Surabaya. Pemerintah kota setempat mencanangkan program kota literasi pada Hari Pendidikan Nasional 2 Mei lalu.

Gayung pun bersambut. Bahkan, gongnya diperluas. Para pegiat literasi dan tokoh pendidikan di kota tersebut lantas mendeklarasikan Jawa Timur sebagai pusat gerakan literasi nasional pada 15 Juni lalu dengan dukungan pemerintah provinsi.

Gerakan ini dilakukan bukan semata-mata untuk meraih perhatian masyarakat, tetapi mewujudkan misi meliterasikan masyarakat dan memasyarakatkan literasi. Upaya ini tentu saja tidak mudah. Dibutuhkan kerja keras, ketelatenan, dan sinergi yang kuat.

Perjuangan tersebut tidak hanya dilakukan melalui sarasehan, seminar, ataupun pelatihan-pelatihan yang mengangkat tema literasi. Usaha lain yang dianggap cukup manjur untuk memasyarakatkan literasi ini juga diaktualisasikan dalam bentuk tulisan.

Itulah yang dilakukan 31 perempuan yang menghimpun kisah-kisah mereka dalam buku Hidup Ini Indah, Beib. Tulisan-tulisan yang terangkum dalam buku tersebut mencoba memahami persepsi di masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan bahasa yang renyah dan mengalir dari tiap-tiap penulisnya.

Rakyat Sumbar 21 Juni 2014Mereka tampaknya sadar betul bahwa menulis merupakan seni berkomunikasi untuk menyampaikan gagasan dan informasi kepada orang lain. Nah, komunikasi –dengan cara menulis– akan berhasil baik jika sesuatu yang disampaikan dapat tepat sama dengan apa yang dipersepsi (Ikhwan Sopa, 2005).

Dalam Tamu Rindu Tuhan yang ditulis Ihdina Sabili, misalnya. Ia menyatakan dengan tegas bahwa membicarakan perempuan adalah berbicara tentang keindahan, kelembutan, dan sumber kehidupan. Sebuah peran yang paling istimewa bagi seorang perempuan di muka bumi ini adalah menjadi ibu (hal. 221).

Dilanjutkan di situ bahwa seorang ibu ibarat pohon kehidupan bagi keluarganya. Begitu mulianya sosok ibu, sehingga surga digambarkan berada di bawah telapak kakinya. Dalam kehidupan sosial, kita tentu sepakat bahwa perempuan memiliki andil yang cukup besar di masyarakat. Khususnya peran dalam mendidik anak-anaknya. Maka, tidak mengherankan jika kemudian muncul idiom bahwa ibu merupakan madrasah (tempat mendidik keluarga) terbaik.

Gambaran peran istri pun tak luput dari buku ini. Porsinya cukup banyak. Salah satunya dilukiskan oleh Evie Suryani. Pegiat literasi dari Perpuskot Surabaya itu menuangkan pengakuan bahwa dirinya memiliki impian untuk berkeliling ke daerah-daerah di tanah air sejak remaja.

And dreams come true ketika ia menikah dengan seorang pegawai BUMN, yang kerap ditugaskan ke berbagai wilayah di Indonesia. Ia menguraikan dengan apik bagaimana seharusnya dukungan yang diberikan seorang istri saat sang suami berdinas. Salah satu pengalaman mendebarkan ia alami saat mengikuti suami yang dipindahtugaskan ke Lhoksukon dan Lhokseumawe di Aceh pada awal 2000-an.

Ini tentu saja berbahaya karena ketika itu Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tengah mengumandangkan pemberontakan kepada pemerintah Indonesia. Dalam suatu pengalaman, Evie yang menggendong bayinya menumpang bus yang di tengah perjalanan dicegat oleh sekelompok bersenjata. Mereka tak lain ialah anggota GAM. Beruntung, mereka hanya memeriksa kartu identitas para penumpang.

Rasa syukur atas nikmat Tuhan juga dicetuskan ketika Evie tinggal di Sengkang, kota kecil yang berjarak empat jam perjalanan dari Ujung Pandang (Makassar). Ia bercerita, ”Kesulitan yang kuhadapi adalah minimnya fasilitas PDAM. Kalaupun ada air yang mengalir dari keran, warnanya cokelat keruh, membuatkan tak sanggup menggunakan air PDAM untuk keperluan rumah tangga. Dengan kondisi seperti itu, hujan rasanya menjadi rahmat tersendiri” (hal. 94).

Cerita keseharian dalam buku ini membuat pembaca serasa mengalami momen yang digambarkan para pengarangnya. Kisah mengharukan dirangkum dengan apik dan sedikit jenaka oleh Dian KD dalam Aku dan Tuhan, Cukup. Seperti perempuan pada umumnya, tentunya mereka sepakat bahwa kesempurnaan seorang perempuan adalah saat ia hamil dan punya anak.

Namun, Dian mempunyai pengalaman yang berbeda, yang juga dialami sebagian perempuan lain. Yakni, sudah lama menikah –tepatnya sepukuh tahun, tapi belum dikaruniai anak.

Segala tuduhan pun disandangkan kepadanya. Di antaranya, ia dituding lebih mementingkan karir dan tidak fokus pada keluarga. Sempat putus asa, ia pun memilih berdialog dengan Tuhan. Keajaiban terjadi. Tanpa diduga, di tengah kegilaan kerjanya, Dian justru bisa hamil. Saking senangnya, ia mengatakan, ”Tuhan minta dirayu. Tuhan ingin dianggap ada. Kehamilan yang berikan-Nya kepadaku saat aku sedang gila kerja telah membuktikannya. Saat ini aku hanya ingin merayakan keberhasilan ini dengan Tuhan saja. Cukup” (hal. 11).

Buku ini bukan sekadar rangkuman kisah-kisah inspiratif perempuan Indonesia. Lebih dari itu, ada ajakan kepada masyarakat untuk lebih memahami kehidupan dan bijaksana menyikapi berbagai persoalan. Dalam konteks literasi, kita tidak lagi memaknainya hanya pada tataran membaca dan menulis, tapi juga keterampilan hidup. Itulah hakikat dan fungsi literasi, yang lugas disampaikan dalam buku ini.

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juni 22, 2014, in Resensi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: