Boom Literasi Sambang Jombang (1)


Insiden di Mojokerto

Tjatatan Must Prast

BUKAN TRIO MACAN: Dari kiri, Must Prast, Much. Khoiri, dan Hartoko di Rumah Belajar MEP Jombang.

BUKAN TRIO MACAN: Dari kiri, Must Prast, Much. Khoiri, dan Hartoko di Rumah Belajar MEP Jombang.

Sabtu, 22 Juni 2014, buku Boom Literasi dijadwalkan dibedah di Rumah Belajar MEP (Menebar Energi Positif) di Jl Agus Salim 9, Kota Jombang. Tempat ini milik Yusron Aminulloh, mantan redaktur Surabaya Post (1991-1996) yang kini menekuni profesi sebagai penulis buku dan trainer pendidikan melalui lembaga training MEP yang telah tersebar di seluruh Indonesia.

Pembedahnya ialah Wibowo Purnomohadi dari Badan Arsip dan Perpustakaan Surabaya. Bersama Evie Suryani, ia disebut-sebut sebagai tokoh di balik bergairahnya dunia literasi di Surabaya. Sebagai pustakawan dan pegiat literasi, Wibowo mengelola lebih dari 425 taman baca masyarakat (TBM) di Kota Pahlawan.

Karena tokoh-tokohnya yang mumpuni di jagat literasi tersebut, sangat sayang apabila acara ini dilewatkan begitu saja. Karena itu, tim editor (Pak Hartoko dan Pak Khoiri) janjian untuk bersilaturahmi ke Jombang. Saya ikut menyanggupi datang.

Ternyata rekan-rekan penulis buku Boom Literasi kebanyakan tak bisa hadir. Yo wis, kami janjian bertemu di By Pass Krian, sebelah utara SMAN 1 Krian. Kami bersua di Rumah Makan Apung yang kondang itu. Setelah minum sebentar, kami menumpang mobil Pak Khoiri menuju lokasi. Saya dan Pak Hartoko menaruh sepeda motor di penitipan kendaraan setempat.

Beberapa saat menjelang masuk Kota Mojokerto, mobil Pak Khoiri disenggol kendaraan lain dari sebelah kanan. Alhasil, spionnya njepat ke dalam. Untung tidak pecah. Pak Khoiri yang biasanya kalem dan kebapakan itu langsung mendengus.

Di perempatan lampu merah, mobil yang nyenggol tadi langsung belok kanan menuju Kota Mojokerto. Dengan napas memburu, Pak Khoiri ikut masuk ke jalur kota. Mengejar sopir mobil tadi.

Sadar dikejar oleh kami, beberapa ratus meter kemudian si pengemudi meminggirkan mobilnya. Saya sudah bersiap mengeluarkan sarung kesayangan di dalam tas, tapi Pak Khoiri meminta Pak Hartoko saja yang turun. Pak Khoiri membuka jendela mobilnya.

Rupanya, pengendara mobil tadi menghampiri Pak Khoiri. Beberapa meter dari mobil kami, ia sempat melihat tampang Pak Khoiri. Raut muka orang itu tiba-tiba melas. ”Minta maaf ya Pak. Saya minta maaf…” ucapnya.

Urusan pun beres. Bisa jadi bapak tersebut mengira bahwa Xenia warna jingga itu disopiri perwira menengah TNI-AL berpangkat kolonel. Apalagi, postur Pak Khoiri amat mendukung. Ditambah Pak Hartoko yang mirip anggota Koramil Sukodono, klop sudah. Andai saja orang tadi tahu bahwa Xenia tersebut disopiri seorang ABCD (ABRI Bukan, Cepak Doang). (bersambung)

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juni 21, 2014, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: