Program Membaca dan Romantisme Jenderal Hoegeng


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Hingga kini saya –mungkin juga masyarakat Indonesia lainnya– masih merindukan sosok pemimpin seperti Jenderal Pol (pur) Hoegeng. Apakah ucapan Gus Dur semasa hidup tentang Hoegeng benar adanya? Yakni sulit mencari figur pejabat bersih seperti Hoegeng. Sampai-sampai Gus Dur mengilustrasikan bahwa cuma ada tiga polisi yang jujur di Indonesia. Yaitu polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng.

Di tengah badai korupsi yang tak henti-henti menghantam tanah air –yang terbaru Menteri Agama Suryadharma Ali jadi tersangka korupsi dana haji– kerinduan akan sosok Hoegeng kian tak terbendung. Hidupnya yang lurus dan sangat bersahaja sebagai pejabat menjadikannya legenda.

Untung, sosoknya segera ”diabadikan” oleh Abrar Yusra dan Ramadhan K.H. dalam buku Hoegeng, Polisi Idaman dan Kenyataan (Sinar Harapan, 1993). Kemudian pada 2010 terbit buku Hoegeng, Oase Menyejukkan di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa (Bentang Jogjakarta) yang dieditori Aris Santoso dkk. Yang teranyar ialah buku Hoegeng Polisi dan Menteri Idaman (Penerbit Kompas, 2013) yang ditulis wartawan Kompas Suhartono.

Bagi generasi muda saat ini, buku-buku tersebut mesti menjadi bacaan wajib. Apalagi, sekarang dunia pendidikan Indonesia tengah tercoreng oleh kasus kecurangan dalam ujian nasional. Semoga saja sekolah-sekolah yang punya program literasi segera mengoleksi buku tentang Hoegeng di perpustakaannya dan menjadikannya bahan bacaan wajib.

Biasanya, remaja-remaja masa kini lebih mudah ”digiring” apabila kita masuk ke dunia yang akrab dengan mereka. Salah satunya adalah romantisme. Berdasar pengalaman saya saat melatih menulis para siswa SMA, kisah-kisah cinta mudah mencuri perhatian mereka. Jika sudah merasa nyaman dan senang, kalau disuruh membaca buku ini atau itu, mereka tidak akan protes.

Terkait Hoegeng, mantan menteri di zaman Bung Karno (1966) dan mantan Kapolri di era Orba (1968-1970) ini punya banyak kisah romantis. Salah satunya tertuang di buku Hoegeng Polisi dan Menteri Idaman (2013). Di halaman 92, dikutip cerita Didit, anak kedua Hoegeng, soal rasa cinta papinya kepada mami tercinta. Hoegeng sempat berwasiat kepada keluarganya bahwa jika meninggal, dirinya tidak mau dimakamkan di taman makam pahlawan.

”Kalau saya dimakamkan di TMP, Meri (nama sang istri) tak bisa dimakamkan di samping saya. Saya ingin Meri selalu mendampingi saya,” kata Jenderal Pol (pur) Hoegeng seperti ditirukan Didit. Banyak keteladanan Hoegeng yang patut ditiru oleh generasi masa kini. Karena itu, buku-buku tentang pria asli Pekalongan itu harus masuk kategori wajib baca bagi siapa pun.

Sidoarjo, 24 Mei 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Mei 24, 2014, in Sosok. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: