Pengakuan Pelajar SMA Pasuruan dan Sidoarjo Terkait UN


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

 

Juangkrik! Saat memeriksa salah satu artikel lomba menulis surat untuk Mendikbud seputar UN, ada tulisan seorang pelajar dari Pasuruan yang sangat mencuri perhatian saya. Tulisannya bergaya reflektif, runtut, dan enak dibaca.

Pagi itu, Rabu tanggal 16 April 2014 kulihat teman-temanku sudah berdatangan. Yang lebih kukagumi, temanku yang sering datang terlambat malah datang lebih awal dariku. Ntahlah apa alasannya, mungkin dia terlalu bersemangat untuk UN hari terakhir.

Sempat aku terlupa, lalu segera kukabarkan kepada teman-temanku mengenai kunci jawaban soal bahasa Inggris bagian listening yang kudapat dari salah-satu temanku di lain sekolah yang dikirim melalui SMS kemarin.

Dan ternyata teman-temanku sudah saling tahu tentang kiriman SMS itu. Mereka juga mendapatkan SMS yang sama. Setelah dicocokkan, ternyata jawaban nomor 1 s.d 15 sama persis.

Tak mengherankan, karena di soal bagian listening tidak ada kode tertentu dan semuanya sama. Untuk bagian listening terdapat 15 soal yang dikerjakan menurut instruksi yang sudah ada.

Menjelang paragraf akhir, dia menuliskan rasa bersalahnya. Dengan cerita yang mengalir, ia menjabarkannya sebagai berikut (tulisan aslinya).

Sungguh tindakan yang seperti ini bukanlah yang aku ingini. Namun apalah daya, keadaan yang membuatku terjerumus dalam lembah hitam. Nilai kejujuran itu terasa jauh dari ragaku”.

Namun, tulisan dari seorang pelajar di SMA negeri di Sidoarjo. Tulisannya begitu jujur dan polos. Berikut ini pengakuannya (tidak saya edit sama sekali).

Akan tetapi, ada hal yang masih menjadi masalah bagi kami para pelajar, yaitu hal yang berkaitan dengan UN. Bukan rahasia lagi bahwa setiap UN, siswa seringkali disibukkan dengan pencarian kunci jawaban. Banyaknya kunci jawaban yang beredar tanpa diketahui siapa pengedarnya membuat siswa-siswi menjadi bingung dan secara tidak langsung mengajarkan untuk tidak jujur. Ada beberapa faktor mengapa siswa-siswi memilih untuk menggunakan atau mempercayai kunci jawaban tersebut. Salah satunya adalah tekanan, stress, dan kebingungan.

Sekarang bola berada di Pak Moh. Nuh. Apakah UN tetap dilanjutkan dengan skema seperti sekarang? Yakni UN dijadikan salah satu penentu kelulusan. Mengapa kita tidak mencoba memahami bahwa pendidikan itu tidak sekadar bicara angka dan prestasi kelulusan seratus persen. Apakah kita pantas bangga dengan prestasi semu semacam ini?

Sidoarjo, 24 Mei 2014

 

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Mei 24, 2014, in Edukasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: