Program Buku Wajib Baca


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Saat bertemu Evie Suryani, pegiat literasi dari Badan Arsip dan Perpustakaan Surabaya, pada 21 Mei lalu saya menyempatkan pula untuk melihat-lihat koleksi di sana. Menurut ibu tiga anak itu, buku-buku yang tersedia di situ baru sekitar 700 ribu.

Saya juga diajak keliling beberapa ruang yang bisa dipinjam untuk bedah buku. Mantan penyiar Delta FM tersebut mengatakan sangat senang mendapat buku Boom Literasi: Menjawab Tragedi Nol Buku. ”Kami siap me-roadshow-kan buku ini di seluruh TBM Surabaya,” tambah Wibowo Purnomohadi, staf lainnya. Dia didapuk Yusron, adik Emha Ainun Najib, untuk membedah buku Boom Literasi di Jombang pada 22 Juni mendatang.

Kabar ini tentu saja melegakan. Sebab, kami dari penulis buku itu sangat berharap agar roda literasi bisa menggelinding di daerah-daerah –termasuk kawasan pelosok. Membangun iklim membaca bagi masyarakat. Saya berdiskusi sekitar satu jam dengan Mbak Evie dan dipameri kegiatan-kegiatan literasi yang dirintisnya di berbagai TBM yang ada.

Ia juga bercerita bahwa Ketua Umum IGI Satria Dharma memintanya menuliskan 50 buku wajib baca bagi siswa SMA. Pak Ketum punya program baru literasi yang akan digeber dengan Surabaya sebagai percontohan. ”Lha kok podho, Mbak?” ucap saya. Pak Satria sebelumnya juga meminta masukan kepada dosen JBSI Unesa Fafi dan saya untuk menuliskan 50 buku wajib baca bagi siswa SMA. Saya belum sempat merincinya selain baru merekomendasikan buku-buku sastra angkatan Balai Pustaka.

Di akhir obrolan pagi itu, Mbak Evie berterima kasih mendapat amunisi semangat baru. Kami sama-sama berjanji untuk menjaga iklim literasi di Kota Pahlawan dengan jejaring masing-masing.

Sore harinya saya bertekad melaksanakan program wajib baca buat diri sendiri. Targetnya menuntaskan dua buku dalam seminggu. Ada dua bacaan yang siap saya ganyang pekan ini. Yakni Rahasia-Rahasia Ali Moertopo (KPG, 2014) yang pernah menjadi edisi khusus Tempo pada 14-20 Oktober 2013 dan Maulwi Saelan Penjaga Terakhir Soekarno (Penerbit Kompas, 2014).

Baru berjalan dua jam, saya langsung mendapat manfaat dari program wajib baca ini. Salah satunya ketika membaca buku Rahasia-Rahasia Ali Moertopo. Disebutkan di situ bahwa tokoh Operasi Khusus (Opsus) itu merupakan perokok berat, pecandu wedang kopi, gila kerja, dan jarang berolahraga sejak menjabat menteri penerangan. Diduga ini turut memicu penyakit jantung yang diidapnya. Pada serangan jantung keempat 15 Mei 1984, Ali Moertopo akhirnya menyerah dan mangkat. Bikin saya takut ngopi!

Sidoarjo, 22 Mei 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Mei 22, 2014, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: