Wali Kota Depok


 Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Depok ialah kota yang akrab bagi saya. Beberapa famili saya tinggal di sana. Saat masih menetap di Bekasi, saya sering mengunjungi Depok. Kebetulan salah satu abang ipar saya tinggal di Depok. Jadi, kalau mbambung ke Jakarta, saya upayakan mampir ke Depok.

Tapi, aduh mama sayange…Depok sekarang makin panas, melebihi Plaosan. Apalagi sejak dipimpin oleh Nur Mahmudi Ismail. Wali kota ini menjabat dua periode (2005-2010 dan 2010-2015), namun sering jadi rasan-rasan di kalangan kawan-kawan media setempat.

Dia juga kerap bikin kesal. Seorang rekan alumnus Universitas Padjadjaran sampai-sampai menyebut Nur Mahmudi pantas merebut trofi juara babat pohon. Proyek betonisasi di Depok memang membuat sebagian kalangan pemerhati lingkungan cemas. Pelebaran jalan memakan korban ditebangnya banyak pohon.

Saking kesalnya, kawan saya tersebut sampai-sampai bilang bahwa dirinya hampir tiap hari berkunjung ke Universitas Indonesia hanya untuk berteduh di bawah pohon-pohon yang rindang. ”Saya berdoa semoga Pak Nur Mahmudi tidak menjadi penguasa di Universitas Indonesia, karena saya amat menyayangi hutan di sana,” tulisnya.

Tetapi, kini saya bisa merasakan kekesalan itu. Minggu lalu (18/5) mobil Pajero sport hitam mantan presiden PKS tersebut menabrak motor Tamam Rosyid, 44, di perempatan Mampang, Pancoran Mas, Depok. Buruh bangunan itu terjatuh dengan luka memar, jari tengah dan jari manis patah, serta dua ruas tulang iga depannya patah.

Dari keterangan polisi setempat, yang bersalah adalah Tamam karena menyalip angkot dan memotong jalan sehingga ditabrak mobil dinas wali kota Depok. Nur Mahmudi mengatakan tak mempermasalahkan meski si buruh bangunan dinilai salah. Mantan menteri kehutanan di era Gus Dur tersebut bahkan siap mengganti biaya akibat tabrakan itu.

Insiden ini ternyata masih berbuntut. Sebagian warga menuntut wali kota Depok meminta maaf. Apalagi, saat kecelakaan terjadi, dia tidak mau turun dari mobil karena menganggap tak menyalahi SOP.

Ah, entahlah. Saya kok melihatnya seperti kurikulum 2013. Sebab, ada kesamaan antara keduanya. Sama-sama ”bermasalah”.

Sidoarjo, 20 Mei 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Mei 20, 2014, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: