Kemiskinan dan Melek Literasi


Oleh Eko Prasetyo

Jurnalis, aktivis Jaringan Literasi Indonesia

(Tulisan ini untuk harian Duta Masyarakat edisi Minggu, 18 Mei 2014)

Judul buku        : Boom Literasi: Menjawab Tragedi Nol Buku

Penulis             : Satria Dharma, Sirikit Syah, dkk

Penerbit           : Revka Petra Media

Tebal               : xii + 299 halaman

ISBN                : 976-602-1162-00-2

Cetakan           : I, Mei 2014

Boom Literasi - Sampul NgarepSalah satu masalah yang terus menjadi fokus kerja pemerintah hingga saat ini adalah menekan angka kemiskinan. Hal ini bisa dipahami karena angka penduduk miskin di tanah air masih cukup tinggi. Sesuai data Badan Pusat Statistik, angka tersebut mencapai 28,07 juta atau 11,37 persen per Maret 2013 di antara total penduduk Indonesia (Republika, 18/8/2013).

Berbagai program direalisasikan untuk menekan angka kemiskinan itu. Namun, ada satu hal yang patut dikedepankan terkait problem ini, yakni literasi. Dalam buku Gempa Literasi (2012), Agus M. Irkham mengutip beberapa publikasi riset literasi yang menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara melek aksara (literasi) tinggi dan perbaikan kehidupan ekonomi. Ini pula yang pernah dilansir UNESCO dalam laporannya pada 2005 yang bertajuk Literacy for Life.

Selama ini upaya pengentasan kemiskinan salah satunya dilakukan melalui sektor perbankan. Tujuannya, memudahkan sektor usaha mikro kecil dan menengah. Banyak upaya lain yang dilakukan pemerintah. Tetapi, usaha meningkatkan budaya literasi setidaknya juga bisa menjadi solusi.

Sebagaimana diketahui, kemiskinan berkaitan erat dengan kemampuan literasi yang rendah. Seperti disampaikan Agus Irkham, opsi paling realistis tentu saja tidak hanya menempatkan perhatian program literasi pada hal teknis, tetapi pada fungsi dan budaya. Yakni memanfaatkan kemampuan membaca dan memosisikan aktivitas membaca dalam kehidupan sehari-hari.

Buku Boom Literasi: Menjawab Tragedi Nol Buku ini menjawab keresahan atas rendahnya budaya membaca dan menulis di tanah air. Buku yang ditulis oleh 16 pegiat literasi Indonesia tersebut mengulas literasi dari berbagai aspek. Salah satunya terkait pengentasan kemiskinan di Indonesia.

Satria Dharma, misalnya, menukil peristiwa perang Spanyol dan Inggris di Pantai Gravelines, Prancis, pada 1588 yang dikutip dari buku The Achieving Society (1961). Perang ini dimenangi armada Inggris karena mereka punya need for achievement (n-Ach/kebutuhan meraih keberhasilan) yang lebih tinggi daripada Spanyol. Salah satu penentu n-Ach tersebut adalah budaya literasi (hal. 121).

Indonesia pada masa kemajuan teknologi saat ini sebenarnya bisa dibilang sedang berperang, yakni berperang melawan kemiskinan dan kebodohan. Karena itu, kita sudah semestinya memiliki n-Ach yang terwujud dalam budaya literasi tinggi.

Di buku ini, Pratiwi Retnaningdyah menegaskan soal modernitas dan literasi. Menurut dia, dalam konsep masyarakat modern, literasi adalah salah satu aspek yang menjadi tolok ukur terjadinya transformasi sosial. Tujuan peningkatan kemampuan literasi dalam tataran ini adalah adalah social mobility, advanced cognition, modern individuals (and community). Ia menyoroti konsep modernitas yang tunggal dan menonjolkan konsep alternative modernity dan multiple modernities.

Kandidat doktor di University of Melbourne, Australia, tersebut meneliti literasi buruh migran Indonesia (BMI) di Hongkong. Ia menegaskan bahwa keterlibatan para BMI di dunia literasi mampu mengubah peran mereka dari ”sekadar” pekerja rumah tangga. ”Nyatanya, para BMI penulis yang saya kenal itu mampu berperan jamak. Mereka memang domestic helper, namun sekaligus penulis, jurnalis, editor, penggerak perpustakaan, blogger” (hal. 143).

Potret lain dipaparkan oleh Fafi Inayatillah. Ia membeberkan pengalaman risetnya saat blusukan ke sebuah SDN di Jawa Timur. Kondisi perpustakaan di sana ala kadarnya. Fafi merasa prihatin ketika mengetahui bahwa guru bahasa Indonesia di sekolah tersebut adalah lulusan pendidikan olahraga.

Ia juga menjelaskan keprihatinan lain tentang rendahnya kemampuan membaca siswa setempat. ”Di antara mereka, ada yang tidak mengenal huruf alfabetis, apalagi menulis. Sedih rasanya melihat kenyataan itu. Kenyataan yang saya temui pada abad ke-21” (hal. 49).

Karena itu, tidak mengherankan jika banyak warga miskin di sekitar SDN tersebut. Rata-rata berpendidikan rendah. Dijelaskan di situ bahwa melek literasi harus dilakukan tidak hanya untuk mengangkat derajat sosial, tetapi juga meningkatkan perekonomian setempat.

Buku ini mengupas lebih banyak tentang subtema membaca, menulis, gerakan literasi, dan buku. Ditulis dengan gaya bertutur yang menjadikannya renyah dibaca, buku setebal 299 halaman ini tidak hanya menggambarkan persoalan-persoalan sosial, tetapi juga menawarkan berbagai solusi dari sisi literasi. Termasuk meningkatkan budaya literasi untuk mengentas kemiskinan dan menuju bangsa yang maju.

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Mei 17, 2014, in Refleksi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: