Ketika Membaca Puisi Gus Mus


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Dalam sebuah cangkru’an bersama teman-teman peminat sastra di Surabaya, saya membacakan puisi heroik karya KH A. Mustofa Bisri yang bertajuk Pesan Perjalanan. Puisi ini ditulisnya pada 1998, ketika para mahasiswa menduduki gedung parlemen dan menuntut penguasa Orba lengser. Berikut ini isinya.

PESAN PERJALANAN

 

Pastikan. Anakku

Kau menuju ke sorga

Bersama orang-orang yang kau cinta

Pastikan

-1998-

(dikutip dari buku Gandrung, Sajak-Sajak Cinta Mustofa Bisri, Mata Air, 2005)

Untuk satu puisi yang hanya empat bait ini saja, diskusi apresiasi sastranya memakan waktu hampir dua jam. Kami memiliki persepsi masing-masing dalam upaya menangkap pesan yang disampaikan Gus Mus (KH A. Mustofa Bisri) dalam puisi Pesan Perjalanan tersebut.

Namun, kami sama-sama sepakat bahwa Gus Mus tengah memotret peristiwa yang mengawali tonggak reformasi pada 1998. Termasuk insiden yang menelan korban mahasiswa pengunjuk rasa waktu itu di Jakarta.

Sajak lainnya yang merekam kisah reformasi itu adalah Aku Tak Bisa Lagi Menyanyi (1998). Sebuah baitnya menegaskan keprihatinan sang penyair.

aku tak bisa mengadukan duka pada duka

mengeluhkan luka pada luka

(Gandrung, Mata Air, 2005)

Ternyata mengapresiasi sebuah karya sastra –dalam hal ini puisi karya Gus Mus– mampu membuat kami berkontemplasi, mencari hikmah, dan menemukan ketenangan. Barangkali, benar yang dikatakan Goenawan Mohamad bahwa karya sastra itu indah –apa pun yang tergambar di dalamnya– karena adanya pelibatan atau pengerahan batin.

Di akhir diskusi, saya mencoba memaknai pesan Gus Mus itu dan mengorelasikannya dengan puisi Aku Ingin Jadi Peluru-nya Widji Tukul. Baitnya yang amat masyhur berbunyi: ”Jika aku menulis dilarang, aku akan menulis dengan tetes darah…” Artinya, dalam dua puisi tersebut sebenarnya terkandung sebuah gejolak perlawanan dalam dimensi yang bisa jadi sama.

Mengingat media saat ini dijubeli dengan berita-berita politik dan kekerasan seksual, rasa-rasanya saya merindukan kembali kegiatan apresiasi sastra seperti itu. Saya tidak yakin dunia penuh sesak dengan orang-orang jahat. Masih banyak keindahan yang bisa dinikmati sambil menyeruput segelas wedang kopi di altar yang dikelilingi alang-alang. Sungguh saya merindukan saat-saat seperti itu tiba kembali.

Sidoarjo, 16 Mei 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Mei 16, 2014, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: