Text & The City (3)


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Saya yakin, banyak tempat memorabilia yang bakal ”lenyap” di Surabaya. Tempat-tempat penuh kenangan ini ke depan bisa berganti menjadi pusat perbelanjaan, jalan, gedung perkantoran, atau bahkan sekolah.

Satu hal yang membekas di ingatan saya adalah nasihat Pak Dukut Imam Widodo, penulis buku Hikajat Soerabaia Tempoe Doeloe. Isinya, pegiat literasi punya tanggung jawab untuk ”mengabadikan” momen-momen yang bisa jadi hilang di masa depan. Tentu saja melalui tulisan.

Hal tersebut ia tegaskan kembali saat peresmian Text & The City: Stories of Surabaya dalam rangka Hari Buku Sedunia pada 12 April lalu. Yang punya hajatan adalah Perpustakaan Bank Indonesia dan bekerja sama dengan ayorek.org serta Perpustakaan Medayu Agung.

Acara ini sendiri bisa dibilang pemanasan sebelum pencanangan Surabaya sebagai Kota Literasi. Berbagai komunitas literasi, pencinta sejarah, penikmat seni, dan penggemar buku dari seluruh Kota Pahlawan berkumpul.

Pada bulan yang sama tahun lalu, saya mendapat buku Onghokham dari Andi Achdian via Dhitta Puti Sarasvati. Buku ini mengupas sejarah dari kacamata sejarawan Onghokham. Dia mengaku sangat menyukai buku-buku kuno, termasuk aroma kertasnya yang khas.

Saya tidak punya banyak buku kuno. Ada buku Wajang Poerwa terbitan 1950-an, tapi entahlah apakah ini bisa disebut buku kuno? Saya rasa belum meski kertasnya sudah lapuk termakan usia.

Menurut Onghokham, kuno itu memberikan nuansa lain. Kini saya tahu nuansa tersebut. Saat mengunjungi koleksi Perpustakaan Medayu Agung yang dipamerkan di Perpustakaan Bank Indonesia sampai Minggu, 4 Mei 2014.

Bekal belajar fotografi dari Mas Tedi Wardhana saya praktikkan di sini. Yang menakjubkan, saya bisa melihat buku-buku kuno yang terbilang langka. Salah satunya, Mein Kampf karya Adolf Hitler. Tanda tangan pemimpin NAZI pun terbubuh di buku itu.

Yang istimewa, ada naskah tulisan tangan Pramoedya Ananta Toer saat menjalani masa pembuangan di Pulau Buru. Tulisan tangan tersebut kelak diterbitkan dengan judul Bumi Manusia.

Mungkin inilah yang nuansa yang pernah dirasakan Onghokham ketika bergumul dengan buku-buku kuno koleksinya. Sebab, saat melihat-lihat tulisan tangan kuno tersebut, saya membayangkan bertemu Pak Pram yang seolah-olah berkata: Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Suasananya begitu emosional. Begitu dahsyat sehingga tak sengaja mata saya tiba-tiba basah.

Surabaya, 3 Mei 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Mei 3, 2014, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: