Text & The City (1)


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Awal April lalu saya diundang oleh Kepala SMAN 5 Surabaya Sri Widiati di ruang kerjanya. Bukan untuk mengawasi ujian nasional tingkat SMA, melainkan menerima kabar gembira tentang kegiatan literasi di sana.

Pada 2012 silam saya dan ketua umum IGI berkesempatan mengisi program literasi yang akhirnya menghasilkan buku Golden Generation tersebut. Buku ini berisi esai, puisi, dan cerpen terbaik karya siswa-siswi Smala (sebutan SMAN 5 Surabaya).

Kali ini Bu Widi menceritakan gairah literasi yang semakin tumbuh di lingkungan anak didiknya. Pihaknya mewajibkan para murid untuk membaca satu buku sastra dalam satu pekan. Buku ini bebas dipilih oleh siswa dan bisa dibawa dari rumah.

Dalam suatu kesempatan, saya melihat langsung bagaimana mereka lesehan di kelas dan mendiskusikan buku yang telah dibaca. Ini mirip kegiatan Book Club yang digelorakan oleh para remaja pencinta buku di Surabaya. Karena ada agenda lain, saya urung bergabung untuk berdiskusi bersama anak-anak muda tersebut.

”Kami memang ingin menumbuhkan kesadaran literasi untuk diterapkan dalam aktivitas sehari-hari pada anak-anak,” tutur Bu Widi. Ucapannya bukan pepesan kosong. Nyatanya, atmosfer membaca sangat terasa jika kita melongok di kelas-kelas saat memasuki jam istirahat belajar. Banyak pelajar Smala yang nongkrong sembari sibuk membaca buku.

Kegembiraan juga terpancar dari Bu Widi karena perpustakaannya digerojok banyak buku oleh Pemkot Surabaya yang semakin peduli program literasi. Buku-buku ini kebanyakan bergenre sastra, sains, teknologi, kesehatan, hingga biografi. Bagi para siswa, buku-buku baru di perpustakaan ibarat berlian. Menjadi pembaca pertama adalah gengsi tersendiri.

Dalam rangka Hari Buku Dunia dan Bulan Sastra, Smala mengadakan lomba menulis bidang sastra yang meliputi cerpen dan puisi. Bu Widi menunjuk saya sebagai salah satu juri. Saat membaca karya anak-anak SMA tersebut, komentar saya cuma satu kata: Diamput! Karyanya keren-keren dan lebih nyastra ketimbang tulisan saya yang lulusan sastra.

Karena itu, saya heran dengan pernyataan Mendikbud Moh. Nuh yang mempertanyakan kemampuan menulis seorang siswi SMA di Surabaya tentang penolakan ujian nasional. Ini Surabaya, Pak! Tempat yang segera dijuluki Kota Literasi.

Surabaya, 28 April 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on April 27, 2014, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: