Kang Tedi (3)


Catatan Eko Prasetyo

Salah satu hal yang dikhawatirkan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini adalah kemacetan lalu lintas. Ini memang problem krusial. Di jam sibuk, jalan-jalan protokol di Kota Pahlawan hampir bisa dipastikan tersendat. Misalnya, Jalan A. Yani, Jalan Raya Darmo, Jalan Diponegoro, Jalan Basuki Rahmat, Jalan Panglima Sudirman, dan Jalan H.R. Muhammad.

Pembangunan frontage road di kawasan A. Yani dianggap belum mampu mengurai masalah kemacetan ini. Salah satu penyebabnya ialah jumlah kendaraan yang terus membeludak. Tiap tahun penjualan kendaraan roda dua dan roda empat mengalami peningkatan. Banyaknya jumlah kendaraan pribadi tidak sebanding dengan pembangunan infrastruktur jalan.

Ini jelas menjadi dilema tersendiri. Membuat regulasi untuk menyetop penjualan kendaraan roda dua, misalnya, tidak mungkin. Sebab, selain pemasukan pajaknya termasuk lumayan, sepeda motor dianggap sebagian masyarakat sebagai solusi realistis ketika pemerintah belum bisa menyediakan moda transportasi layak.

Maka, Risma –sapaan Tri Rismaharini– mulai getol mengampanyekan gerakan bersepeda. Ia membuat kebijakan khusus soal ini. Dibuatlah jalur khusus pesepeda di beberapa jalur protokol. Kerja sama dengan pihak dishub dan kepolisian digeber untuk mendukung kampanye ecotransport ini. Hal ini dilakukan agar kemacetan Surabaya tidak ”segila” ibu kota.

Sesungguhnya Risma mengharapkan munculnya banyak duta ecotransport dari kalangan remaja dan anak muda. Tedi K. Wardhana bisa jadi orang yang tepat untuk mencetak duta-duta muda ecotransport tersebut. Menjadi teladan. Fotografer profesional ini sosok yang unik. Kehidupannya tak bisa dilepaskan dari sepeda.

Sudah puluhan tahun Tedi aktif sebagai penggowes. Warga Bogor ini serasa menemukan dunianya lewat hobi travelling dan pekerjaannya sebagai fotografer. Ia mengatakan bisa menyatu dengan alam dan menggali inspirasi di tiap perjalanan bersepedanya. ”Bersepeda juga salah satu bentuk mengagumi kebesaran Tuhan,” ujar pria 49 tahun itu.

Sepeda lipat menjadi favoritnya kala menjelajah kota-kota di Indonesia, termasuk saat berlibur ke luar negeri. Bisa dibilang kamera dan sepeda adalah sahabatnya. Tedi menceritakan pengalaman temannya yang merupakan salah satu direksi di Pertamina Hulu.

”Pemerintah menggelontorkan triliunan rupiah tiap tahun, tapi dibuang begitu saja,” ucap Tedi menirukan ucapan kawannya tersebut. Maksudnya, subsidi BBM oleh pemerintah terbuang lewat kemacetan parah seperti yang terjadi di DKI Jakarta.

Tedi merasa bersyukur tidak ikut andil terhadap dampak polusi dari asap kendaraan lantaran dirinya bersepeda jika pergi ke mana-mana. Apakah tidak tertarik naik mobil pribadi? ”Saya nggak punya mobil dan nggak tertarik untuk beli mobil,” tegas suami Sekar Wardhana tersebut.

Habe Arifin, kolega Tedi, mengakui bahwa Tedi merupakan sosok yang unik. ”Karena itulah, saya mengajak Kang Tedi untuk menyukseskan program ecotransport Pertamina Foundation di sekolah-sekolah Sobat Bumi. Dia bisa menjadi contoh sekaligus mendorong terciptanya gaya hidup ramah lingkungan di kalangan muda,” tutur Habe.

Ecotransport ala Tedi tidak jauh dari tiga hal, yakni walking (berjalan kaki), cycling (bersepeda), dan public transportation (memanfaatkan transportasi umum). Soal kegiatan cycling, ia bisa disebut pencinta sepeda. Terbukti terdapat belasan sepeda di kediamannya. Mulai yang harganya murah sampai puluhan juta rupiah.

Sidoarjo, 26 April 2014

 

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on April 27, 2014, in Ecotransport. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: