Kang Tedi (1)


Catatan Eko Prasetyo

Klub Baca Buku IGI

Foto mampu menggambarkan seribu cerita. Kalimat ini dua kali saya dengar dari Tedi Kresna Wardhana. Pertama di pelatihan fotografi dan jurnalistik di SMA Annuqayah 3 Sumenep akhir November 2013. Kedua workshop ecotransport Sobat Bumi Pertamina Foundation di SMAN 10 Malang, 23 April 2014.

Mas Tedi seorang fotografer profesional dan kini mengajar di Darwis Triadi School of Photography. Kegiatan di SMAN 10 Malang menjadi reuni buat kami. Saya sempat membisiki wartawati Malang Post (Jawa Pos Group) yang meliput acara ini. Saya cuma bilang bahwa narasumber yang bernama Tedi itu layak dibuatkan feature sosok. Sayangnya, pada hari pertama (22/4) Mas Tedi sibuk memandu para pelajar dari 11 sekolah untuk merakit sepeda dan memberikan banyak wawasan tentang bersepeda.

Maka, hari itu saya hanya mengarahkan si reporter ke Cak Habe, Sekjen Perhimpunan Sepeda Sekolah Indonesia. Saya rada getun lantaran Mas Tedi tidak bisa diwawancari. Padahal, momennya pas, yaitu Hari Bumi.

Mengapa? Mas Tedi layak dijadikan teladan bagi anak-anak muda dan masyarakat umum. Pria kelahiran Bucharest, Rumania, 10 Januari 1965, tersebut tidak hanya piawai dalam jepret-menjepret. Dia juga dikenal sebagai pegiat greenlife. Aktivitasnya di komunitas pencinta sepeda juga moncer.

Akhir November 2013 Mas Tedi bersama istrinya (Mbak Sekar) serta Pak Ahmad Rizali dan nyonya (Bu Liza) melakukan Tour de Madura. Keempatnya ngonthel dari Bangkalan ke Guluk-Guluk, Sumenep, lewat jalur utara. Pak Rizali, Mbak Sekar, dan Bu Liza dikabarkan sempat numpang kendaraan menuju Sumenep karena kelelahan. Hanya Mas Tedi yang ngotot meneruskan perjalanan dengan nggowes sampai lokasi.

Bersepeda bagi bapak tiga anak tersebut adalah gaya hidup. Ke mana-mana tak bisa lepas dari sepedanya. Tak heran jika posturnya lencir dan bagus. Khas pesepeda. ”Setidaknya bersepeda merupakan salah satu wujud kepedulian kita terhadap lingkungan,” tuturnya.

Saya merinding saat Prof Alan Marino dari Universitas Indonesia memaparkan ”kengeriannya” terhadap persoalan kemacetan Jakarta. Ibu kota semakin tak nyaman. ”Bukan tidak mungkin kota-kota lain seperti Malang bisa seperti ini,” ujarnya dalam diseminasi program ecotransport di SMAN 10 Malang, Selasa lalu (22/4). Maka, amat wajar jika ada harapan bahwa pegiat greenlife seperti Mas Tedi harus lebih banyak.

Sidoarjo, 23 April 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on April 27, 2014, in Ecotransport. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: