Memuliakan Buku


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Ini judul artikel yang pernah saya baca di surat kabar Media Indonesia edisi Minggu beberapa bulan lalu. Saya lupa namanya, tapi dia seorang peminat budaya. Sampai sekarang, saya masih terngiang-ngiang dengan tulisan tersebut.

Ulasannya jernih, tapi ada satu paragraf yang isinya menohok. Isinya kira-kira begini: Masyarakat kita selama ini belum memuliakan buku. Tentu saja yang dimaksud adalah bagaimana perlakuan sebagian orang di Indonesia terhadap bacaan-bacaannya.

Hal ini memotret keseharian kita. Ada orang yang membeli buku dan baru dibaca bertahun-tahun kemudian. Ada pula yang hanya menata di rak buku, tapi hanya sebagai pajangan. Kiranya ini mirip perlakuan terhadap kitab suci. Dipajang, tapi jarang dibaca.

Saat ini saya sedang menyunting sebuah buku tentang literasi. Salah satu tulisan seorang guru besar di sebuah PTN menceritakan pengalamannya selama kuliah S-2 di Universitas Sheffield, Inggris. Dia menuturkan bagaimana para anak muda di kota tersebut begitu rakus membaca buku.

Ini tentu saja mengingatkan saya pada nasihat Austin Phelps, seorang pendidik asal Amerika. Secara eksplisit ia mengatakan, ”Pakai baju lawas dan beli buku baru”. Di sini ia ingin menegaskan bahwa tingginya perlakuan terhadap buku atau bacaan.

Di rumah Sidoarjo, saya hanya memiliki satu lemari buku. Hanya ada sekitar 500 buku di situ. Buku-buku lain yang tertampung saya taruh di kamar belakang. Ratusan buku lainnya –kebanyakan buku anak– sudah saya bagikan ke anak-anak miskin di Kabupaten Malang.

Perbedaannya, saya baru membuka buku di lemari itu jika hendak menulis sesuatu. Sementara anak-anak miskin tadi begitu antusias membaca buku-buku dan komik yang saya beri.

Dalam suatu pemandangan, saya melihat seorang bocah belajar mengeja huruf di depan buku bergambar ukuran besar yang ada di hadapannya. Tanpa ia sadari, sesungguhnya ia menangkap pesan penulis asal Prancis Victor Hugo: ”Belajar membaca bagaikan menyalakan api. Setiap kata yang dieja menjadi percik yang menerangi”.

Bocah perempuan tersebut membuat saya malu. Ia telah mengajari saya bagaimana cara memuliakan buku.

Malang, 12 April 2014

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on April 12, 2014, in budaya. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: