20 Paket Soal UN Bisa Bocor, Dibanderol Rp 200 Ribuan


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

FGD 3 Maret 2014Kemendikbud kembali mengadakan dialog pendidikan tentang ujian nasional dan kurikulum 2013 di Surabaya hari ini (3/4). Acara yang dihelat di Hotel Novotel ini mengundang para pemerhati dan praktisi pendidikan. Kemendikbud diwakili oleh Sukemi (staf ahli Mendikbud bidang media), Prof Ibnu Hamad (kepala pusat informasi dan humas Kemendikbud), dan Prof Abdullah Alkaf (staf ahli Mendikbud bidang organisasi dan manajemen).

Kegiatan ini merupakan lanjutan sosialisasi yang pernah diadakan di Surabaya pada November tahun lalu. Seperti biasa, pihak Kemendikbud menegaskan bahwa kurikulum 2013 dan ujian nasional itu penting dan harus diselenggarakan.

Kemendikbud juga memaparkan tanggapan kontra terhadap kurikulum 2013. Tentu saja saya tahu betul bahwa yang dimaksud adalah Prof Iwan Pranoto dan kawan-kawan yang getol menentang kebijakan ini di berbagai media cetak.

Bagian paling menarik adalah sesi tanya jawab. Banyak yang langsung mengacungkan tangan. Di antaranya, para srikandi alumni IKIP Surabaya. Mereka adalah Hariyani Susanti (SMPN 2 Kedungadem, Bojonegoro), Dina Hanif Mufida (SMP Muhammadiyah 12 GKB, Gresik), dan Ida Tisrina (SMAN 2 Sidoarjo).

Hariyani mengungkapkan fakta bahwa masih banyak guru di daerahnya yang belum melek teknologi sehingga kurikulum 2013 belum pas diterapkan di sana. ”Bahkan, lebih dari separo guru di tempat saya masih belum bisa menggunakan komputer,” ucapnya.

Dina mengeluhkan masalah asesmen dengan perbandingan jam mengajarnya yang lebih dari 24 jam sepekan. Sementara Ida menohok para pejabat Kemendikbud dengan fakta kebocoran ujian nasional yang pernah ia dapati.

Pernyataan Ida diperkuat oleh Heru, perwakilan PGRI Jawa Timur. Pria berkumis ikal itu melontarkan fakta mengejutkan bahwa 20 paket soal ujian nasional yang berbeda pun bisa dibocorkan. Satu soal dibanderol Rp 200 ribuan. Intinya, secara tidak langsung, banyak gugatan terhadap ujian nasional di ruang Brawijaya, Novotel, tadi.

Namun, bukan Kemendikbud namanya jika tak piawai berdalih. Sukemi mengatakan bahwa pihaknya membuka posko pengaduan di kantor Kemendikbud apabila memang ada kasus kebocoran ujian nasional. ”Kami akan merahasiakan identitas si pelapor,” garansinya.

Yang tidak masuk akal, apabila laporan baru diberikan setelah ujian nasional, pihaknya tidak menganggap itu sebagai kasus kebocoran. ”Kalau laporannya sebelum penyelenggaraan, ini baru masuk kategori kebocoran ujian nasional,” elaknya.

Bagi saya, dialog pendidikan ini kurang mencerahkan. Ada beberapa hal yang tidak dijawab dengan tuntas oleh Kemendikbud. Tak heran jika yang diserbu para awak media adalah orang dari PGRI Jatim tadi.

Dalam iklan UN di TVRI, Kemendikbud melontarkan jargon: ”Prestasi penting, jujur harus!” Dengan kondisi yang seperti sekarang, apakah ada jaminan UN akan benar-benar berlangsung jujur dan bersih sama sekali dari kasus kecurangan?

Surabaya, 3 April 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on April 3, 2014, in Edukasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: