Nasihat Jakob Oetama


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

PENDIRI KOMPAS: Jakob Oetama. (Sumber: saudaratua.wordpress.com)

PENDIRI KOMPAS: Jakob Oetama. (Sumber: saudaratua.wordpress.com)

Salah seorang wartawan senior yang saya kagumi adalah Julius Pour dari Kompas. Ia amat mencintai profesinya sehingga setiap berita ataupun feature yang ditulisnya seolah memilih roh.

Saya memiliki hampir semua buku yang pernah ditulisnya. Termasuk buku biografi Jenderal Benny Moerdani, Laksamana Soedomo, dan Letkol Ignatius Slamet Rijadi (gugur saat pemberontakan Republik Maluku Selatan pada 1950).

Julius termasuk wartawan yang produktif menulis buku. Kebanyakan buku-bukunya bertema sejarah. Sebagai koresponden daerah, saya banyak belajar dari gaya tulisan feature para jurnalis kawakan seperti Bambang I. Soedono (eks Matra, kini pemred majalah Greenlife Inspiration), Triyanto Triwikromo (redaktur Suara Merdeka, sastrawan), Bahari (redaktur Jawa Pos), dan Julius (KompasGramedia).

Saat menghadiri peresmian Manajemen Penulis Indonesia (MPI) di Surabaya pada Ahad, 30 Maret lalu, pakar sejarah Islam Budi Ashari mengatakan bahwa buku sejarah yang baik adalah yang ditulis berdasar riset dan diperkuat sumber-sumber sahid. Kiranya, kalau bicara buku sejarah di tanah air, karya Julius merupakan referensi yang bisa dipakai. Sebab, buku-bukunya tidak hanya ditulis berdasar data dari pustaka-pustaka yang ada, tetapi juga riset langsung ke pelaku sejarah yang masih hidup.

Namun, ada satu hal yang ingin saya tiru dari Julius. Yakni totalitasnya dalam menulis buku. Ternyata ini tidak lepas dari nasihat Jakob Oetama, pendiri Kompas. Julius terkesan ketika menerima nasihat dari Jakob bahwa buku adalah mahkota bagi wartawan. Jika berita koran harian umurnya tidak terlalu panjang, buku lebih abadi.

Seberapa penting buku? Maxim Gorky punya pandangan tersendiri. ”Seni dan sains adalah dua kekuatan yang berhasil memengaruhi pendidikan manusia. Dan keduanya bertemu dalam buku!”

Surabaya, 1 April 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on April 1, 2014, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: