Tak Ada Kebangkitan tanpa Baca


Tjatatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Rencana mudik ke Malang hari ini batal. Sebab, saya ingin memenuhi undangan Oki Aryono, pemred majalah Al Falah (YDSF) yang juga sohib satu almamater. Ia didapuk sebagai ketua Yayasan Bina Qolam Indonesia yang diinisasi oleh Abdul Kadir Baraja, pendiri Sekolah Al Hikmah Surabaya.

Pagi tadi Bina Qolam Indonesia melakukan soft launching Manajemen Penulis Indonesia (MPI). Ini semacam organisasi literasi yang berupaya mewadahi para penulis dan komunitas penulis muslim. Kantornya bertempat di Jalan Bengawan 2A, Surabaya, yang tak jauh dari rumah dinas gubernur Akademi Angkatan Laut (AAL).

Ternyata acara ini menjadi ajang reuni antar penulis. Saya bersua dengan banyak senior di IKIP Surabaya. Di antaranya, Achmad Wahju (direktur Indonesia Menulis) dan Much. Khoiri (pendiri Jaringan Literasi Indonesia). Termasuk Bahtiar H.S. (mantan ketua FLP Surabaya), Anwar Djaelani (kolumnis, penulis buku), serta Ma’mun (novelis jebolan Gontor).

Banyak agenda yang akan dilakukan terkait dengan literasi oleh MPI. Tidak hanya terbatas pada pelatihan menulis dan penerbitan, MPI juga berkomitmen untuk melahirkan penulis-penulis andal yang karyanya dapat dipertanggungjawabkan. Bukan penulis yang cuma berorientasi pada keuntungan (royalti/materi) semata. Akan tetapi, MPI pun berusaha meningkatkan kesejahteraan penulis lewat kerja sama-kerja sama yang dilakukan.

Selama ini banyak penerbit yang mengabaikan poin ini. Sebagian besar penulis di Indonesia seolah menempati posisi yang sulit dan dilematis. Di satu sisi, tidak mudah mencari penerbit yang mau menerima naskah kendatipun kualitas naskahnya bisa dibilang baik. Di sisi lain, tidak banyak penulis di Indonesia yang bisa ”hidup” hanya dari royalti buku.

Namun, saya mendukung adanya lembaga literasi seperti MPI bukan karena alasan komitmen tersebut. Juga bukan lantaran saya mengenal baik orang-orang yang ada di dalamnya. Lebih dari itu, MPI punya cita-cita besar untuk membangun bangsa ini lewat budaya literasi.

Kebetulan hal ini disinggung oleh narasumber yang dihadirkan, yakni Budi Ashari. Tokoh di balik layar salah satu acara dakwah di Trans7 ini adalah penulis dan pakar sejarah Islam). Ia menekankan kembali pentingnya membangun budaya literasi.

Allah SWT lewat Alquran bahkan telah menegaskannya lewat dua surat, yakni Al Alaq dan Al Qolam. Budi menukil salah satu sumber bahwa yang pertama diciptakan bukanlah manusia ataupun malaikat, melainkan al qolam yang secara umum bisa dimaknai sebagai catatan yang salah satunya berisi takdir manusia).

Ayat pertama yang berbunyi Iqro bismirabbikalladzi khalaq dalam surat Al Alaq bisa disebut sebagai panduan peradaban. Sebab, di situ ada perintah membaca. Dalam surat ini, perintah membaca diulang dua kali (ayat pertama dan ketiga).

Dalam konteks yang lebih besar, membaca merupakan kunci kemajuan sebuah bangsa. Aktivitas membaca mampu membangkitkan semangat untuk berbuat lebih baik dan lebih maju. Mengutip pernyataan Budi Ashari, sejatinya tidak ada kebangkitan tanpa membaca.

Sidoarjo, 30 Maret 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Maret 31, 2014, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: