Rokok Tidak Membunuh


Catatan Eko Prasetyo

Ada peringatan baru yang terpampang di tiap bungkus rokok saat ini. Bunyinya, ”Rokok Membunuhmu!”

Membacanya saja sudah membuat merinding. Sebelum itu peringatannya lebih panjang. Bunyinya kurang lebih begini: Rokok dapat menyebabkan kanker, gangguan jantung, impotensi, dan gangguan janin pada ibu hamil. Seram, tapi tak segahar peringatan yang terbaru tadi.

Faktanya, peringatan tersebut tidak berlebihan. Sudah banyak perokok yang ”terbunuh” oleh penyakit paru-paru lantaran dahulu merupakan perokok berat. Misalnya, Panglima Besar Jenderal Soedirman, gitaris The Beatles George Harisson, dan yang teranyar adalah bintang iklan Marlboro yang kondang pada 1970-an itu.

Namun, ada kontradiksi yang pernah saya saksikan di suatu dusun terpencil di Kabupaten Malang. Sebagian besar kaum pria di sana merokok secara tradisional. Rokoknya dilinting sendiri dengan daun jagung. Warga setempat menyebutnya rokok klobot.

Dalam sebuah kesempatan, saya melihat seorang kakek sekitar 80 tahun sedang asyik mengepulkan asap klobotnya. Ia duduk tenang di atas dipan, menyaksikan lanskap pegunungan dan sawah terasering. Bagi dia, mungkin hidup seolah benar-benar hidup saat itu, apalagi dengan ditemani sebatang rokok klobot dan segelas besar kopi encer.

Dari perbincangan kami, ia mengaku sudah merokok sejak usia remaja. Memang bagi sebagian masyarakat di pegunungan, merokok bagaikan tradisi. Setidaknya anak yang sudah lulus SD dianggap sudah matang dan sah merokok.

Hebatnya, tubuh kakek itu terlihat segar kendati perokok berat. Ingatannya pun masih tajam. Saat masih berusia produktif, olahraga yang akrab adalah mencangkul di sawah dan mencari rumput untuk pakan ternak. Seperti kebanyakan orang awam, ia tidak ingin berpikir jauh bahwa merokok dapat membunuh. ”Mati itu urusan Tuhan,” ujarnya dalam bahasa Jawa.

Dari penelitian medis, rokok dinyatakan tidak baik bagi kesehatan. Bagi sebagian orang, rokok telah menjadi budaya. Bagi sebagian lainnya, rokok memberikan ladang penghasilan untuk menghidupi keluarga.

Bagi saya, rokok tidak seseram peringatannya. Jika ingin aman merokok, pegang saja rokoknya tanpa perlu memantik api dan mengisapnya. Anda bisa mempraktikkannya jika siap disebut kurang kerjaan.

Surabaya, 23 Maret 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Maret 31, 2014, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: