Karya Sastra Kita Masih Berwawasan Sempit


Sumber: Majalah Widyawara edisi April 2014

Di tengah gairah tumbuhnya karya-karya sastra kontemporer, roda regenerasi sastrawan dianggap belum berjalan seperti yang diharapkan. Di sisi lain, Indonesia memiliki banyak sastrawan, tetapi masih minim kritikus sastra. Masalah pelik lainnya, minat baca generasi muda terhadap karya sastra belum dapat dikatakan menggembirakan. Lantas, bagaimana upaya untuk menumbuhkan gairah membaca sastra sejak dini? Berikut petikan wawancara dengan Sirikit Syah, sastrawan sekaligus direktur Sirikit School of Writing.

 

Bagaimana pandangan Anda terhadap perkembangan sastra di tanah air sekarang ini?

Sangat maju. Temanya sangat bervariasi. Gaya bahasa atau style-nya berani mendobrak pakem.

Sebagian pemerhati sastra menyebut bahwa regenerasi sastrawan saat ini belum maksimal? Benarkah demikian?

Dari sudut pandang kritikus sastra, artinya secara kualitas kesastraan, mungkin. Meski demikian, kemajuan sastra tidak hanya diukur dari kualitas, tetapi juga kuantitas, antusiasme, iklim, serta pembaruan-pembaruan.

Jika jurusan kedokteran menghasilkan banyak dokter, jurusan sastra tidak selalu melahirkan sastrawan. Apakah ini bisa disebut kemunduran di jurusan sastra?

Jurusan kedokteran melahirkan sarjana medis sebagaimana jurusan sastra menghasilkan sarjana sastra. Tidak semua lulusan fakultas kedokteran jadi dokter. Banyak di antara mereka jadi PNS. Kanwil/dinas kesehatan kabupaten dan provinsi banyak diisi sarjana medis. Mereka jadi administratur. Di RSUD dr Soetomo banyak lulusan FK di manajemennya. Sama, lulusan sastra banyak yang jadi guru menulis, editor bahasa, kritikus sastra, staf dinas pendidikan, dan lain-lain.

Saat ini bisa dibilang banyak sastrawan, tetapi minim kritikus sastra. Bagaimana pendapat Anda?

Ya, mungkin betul. Semua orang mau menulis karyanya sendiri. Tapi, tidak banyak yang mengamati karya orang lain. Ini mencemaskan: level quality bisa menurun. Jadi, ingat anak kedua saya, Bintang. Ia mengkritik maraknya pengajaran entrepeneruship. ”Itu akan menghancurkan bumi karena semua orang mengeksploitasinya. Semua mau jualan. Siapa yang akan beli? Ibu lihat, buanyak banget wiraswastawan di sekitar kita (PKL, Red). Harus ada yang jadi pembeli. Aku milih jadi pembeli,” kata Bintang.

Setelah Pramoedya Ananta Toer, belum ada nomine nobel bidang sastra dari Indonesia. Apakah ini disebabkan kurangnya publikasi internasional sastrawan kita?

Pertama, kurang publikasi internasional karena karya-karya kita tidak diterbitkan dalam bahasa Inggris dan kecil sekali jumlah penerjemahan karya kita ke dalam bahasa internasional. Berbeda dengan sebaliknya. Tidak ada karya yang bernilai universal seperti Anti Feodalism-nya Pramoedya Ananta Toer, Against Woman Opression-nya Tony Morrison. Kedua, karya-karya kita masih berwawasan sempit (keagamaan yang sempit, pemerontakan kaum perempuan yang menjadikan diri mereka beyond feminist—maskulinisme dalam sastra perempuan Indonesia), dangkal di permukaan.

Dengan perkembangan sastra kontemporer sekarang, sekolah-sekolah masih memakai referensi sastra lama. Perlukan sastra kontemporer juga menjadi rujukan di sekolah?

Sastra lama jangan ditinggalkan, terutama yang legendaris. Tapi, guru juga harus upgrade and upgrade dirinya dengan karya-karya sastra yang baru. Karya sastra baru terasa lebih signifikan dan kontekstual bagi para siswa, dapat mendorong mereka menulis. ”Kisah kayak begini, aku juga bisa nulis,” begitu kira-kira perasaan siswa kalau membaca sastra baru. KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya) terbukti membuat anak-anak antusias menuliskan karyanya sendiri.

Bagaimana menumbuhkan gairah sastra di kalangan muda ketika minat baca kita masih dianggap rendah?

Tentu yang pertama-tama adalah naikkan minat baca. Caranya, buku harus murah, perpustakaan mesti menarik, guru dan dosen harus mewajibkan siswa/mahasiswa membaca buku. Namun, kalau minat baca tetap rendah, ini tugas kita semua. Guru, misalnya, harus menulis untuk meyakinkan setiap orang bahwa everybody has a story and everbody can write. Lagi, guru dan dosen, apa pun mata pelajaran/kuliahnya, harus mewajibkan siswa atau mahasiswa menuliskan sesuatu. Para orang tua jangan hanya menyuplai anak-anak dengan buku bacaan, tapi sediakan alat tulis untuk menulis catatan harian, pengalaman, pengalaman, pengamatan, renungan, anak-anak itu sehari-hari. Ajari untuk ekspresikan kemarahan dan kesenangan dengan kata-kata tertulis. (eko prasetyo)

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Maret 31, 2014, in Berita. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: