Menulis sebagai Lifestyle


Laporan Eko Prasetyo

 

SURABAYA – Menulis itu bakat, demikian mitos yang banyak berkembang di masyarakat. Anggapan tersebut dimentahkan dalam talk show menulis di program Zona Saudagar, Radio Suara Muslim Surabaya 93,8 FM pada Kamis, 13 Maret 2014.

Menurut Sirikit Syah, salah satu narasumber, menulis adalah keterampilan. ”Sehingga kegiatan ini bisa dipelajari dan dilatih,” jelasnya. Ia lantas menceritakan pengalamannya mendirikan sekolah menulis di Surabaya.

Ditegaskan ibu dua anak tersebut, dirinya memang memiliki passion besar terhadap dunia tulis-menulis. ”Sebab, yang terucap itu akan lenyap dan yang tertulis itu akan abadi. Selama ini banyak tokoh-tokoh bangsa ini yang hebat dalam bicara, namun lemah ketika menulis. Padahal, budaya literasi ini penting kita tumbuhkan,” tutur mantan wartawan Surabaya Post dan The Jakarta Post tersebut. 

Akhirnya, kata dia, pada 2012 dia mendirikan Sirikit School of Writing (SSW) di Kota Pahlawan. Sirikit tidak sendiri. Ia mendapat dukungan rekan-rekannya seperti Ketua ICMI Jatim Ismail Nachu, Sekretaris Umum ICMI Jatim Samsul Hadi, owner Penerbit Bina Ilmu Abi Ratno, Direktur Indobarometer M. Chodari, dan novelis Md. Aminudin.

Narasumber lainnya, Samsul Hadi, membenarkan bahwa ICMI Jatim mendukung penuh upaya membangun budaya menulis di masyarakat. ”Kami memiliki program yang bernama Saudagar Muslim. Ada banyak sektor yang dikembangkan. Salah satunya ialah jasa seperti kepenulisan ini. Jadi, SSW ini sebenarnya merupakan inkubasi bisnis yang saya yakin di masa mendatang akan semakin maju dan berkontribusi untuk masyarakat,” papar Samsul.

Banyak sisi lain seputar menulis yang dikupas oleh kedua narasumber. ”Saat ini musimnya perang ideologi. Yang menang adalah yang menulis,” tegas Sirikit. Dia juga mengingatkan bahwa menulis itu mudah karena pada dasarnya setiap orang punya cerita (story).  

Talk show yang bertema menulis sebagai lifestyle ini diadakan di Darmo Herlic Cafe & Resto, Jalan Raya Darmo, Surabaya. Beberapa peserta talk show berasal dari Forum Lingkar Pena (FLP) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN).

Samsul menegaskan, menulis harus bisa dijadikan sebagai gaya hidup karena manfaatnya yang sangat banyak. ”Dengan menulis, seseorang akan terbiasa berpikir secara sistematis dan terstruktur. Selain itu, aktivitas menulis menyehatkan dan menyembuhkan,” pungkasnya.

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Maret 15, 2014, in Berita. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: