Mencari Rektor Bervisi Literasi


Oleh Eko Prasetyo

Pengajar di Sirikit School of Writing, penulis buku

Universitas Negeri Surabaya (Unesa) membuka 2014 benar-benar dengan lembaran serbabaru. Gedung-gedung baru nan megah telah dan akan berdiri di kampus Ketintang dan Lidah Wetan. Tidak hanya itu, selain infrastruktur seperti gedung, hutan kampus, dan fasilitas lain, tahun ini tampuk kepemimpinan rektor Unesa akan berganti.

Selama periode di bawah Prof Muchlas Samani, wajah Unesa semakin segar. Yang paling tampak adalah pengembangan infrastruktur dan penguatan sumber daya manusia (SDM). Berbagai program peningkatan kualitas sektor riil pun gencar dilakukan. Rekam jejak dan kinerja Muchlas yang dinilai baik tentu meninggalkan tongkat estafet yang berat bagi calon penggantinya.  

Sosok Muchlas bisa dibilang lengkap. Sebagai akademisi, ia tidak hanya mampu merangkul akar rumput di tingkat kampus, tetapi juga dekat dengan birokrasi, terutama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Ia mengajak seluruh civitas academica Unesa berlari cepat di bawah roda kepemimpinannya.

Hal ini bisa dipahami karena Unesa boleh disebut sedikit tertinggal dari LPTK lain semacam Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), ataupun tetangganya, Universitas Negeri Malang (UM). Maka, berbagai kerja sama pun dibina untuk kepentingan pengembangan dan kemajuan kampus. Salah satu yang hasilnya amat menonjol adalah kerja sama dengan Islamic Development Bank (IDB).  

Proliterasi

Muchlas juga dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap dunia literasi. Lulusan fakultas teknik ini tidak hanya mendorong tumbuhnya iklim baca-tulis di internal, tetapi juga mencontohkan bagaimana dirinya aktif menulis. Hal ini terlihat dari rutinitasnya mengisi kolom khusus di majalah Unesa serta memublikasikan gagasan kritisnya di beberapa surat kabar nasional.

Hal ini tidak hanya membentuk personal branding-nya semata, tetapi sekaligus memberikan contoh kepada para koleganya serta para mahasiswa. Bagi kaum akademisi dan intelektual, memiliki keterampilan menulis itu hukumnya wajib. Namun, faktanya masih ada saja kasus mahasiswa yang sekadar menulis satu atau dua paragraf saja tidak mampu. Lantas bagaimana jika ia nanti menyusun skripsi di S-1 dan tesis di S-2?

Maka, rubrik Kolom Rektor di majalah Unesa sejatinya merupakan cara Muchlas dalam memompa semangat para mahasiswa dan dosen untuk segera menyatukan visi besar Unesa di bidang literasi. Rubrik ini tidak berisi tulisan ilmiah, bukan pula orasi ilmiah, ataupun tulisan yang ndakik-ndakik.

Di rubrik tersebut, Muchlas bercerita dengan luwes lewat pena. Membaca dua halaman pada kolom khusus itu seakan tidak terasa. Tahu-tahu sudah selesai. Ini disebabkan gaya tulisannya yang ringan, namun bernas dan berbobot. Mirip rubrik Manufacturing Hope-nya Dahlan Iskan (menteri BUMN) tiap Senin di Jawa Pos atau rubrik OOT-nya Ahmad Rizali (direktur pendidikan Pertamina Foundation) di forum dumay Ikatan Guru Indonesia (IGI).

Di era Muchlas, iklim literasi terus ditumbuhkan. Dukungan dari dalam dan luar berdatangan. Dari internal Unesa, Direktur PPG Prof Luthfiyah Nurlaela, dosen creative writing jurusan bahasa Inggris Much. Khoiri, dan kandidat doktor University of Melbourne Pratiwi Retnaningdyah, dan lain-lain rajin menggelorakan spirit literasi melalui berbagai forum. Dari luar, jaringan alumni yang tergabung dalam Keluarga Unesa juga kompak memberikan support. Di antaranya, Habe Arifin (ketua program ecotransport Pertamina Foundation), Satria Dharma (ketua umum IGI), Suhartoko (humas Puspa Agro Jatim), Rukin Firda (wartawan senior Jawa Pos), dan Sirikit Syah (direktur Sirikit School of Writing).

Kolaborasi kekuatan dari dalam dan luar ini kian memperkuat gerakan literasi Unesa di bawah masa kepemimpinan Prof Muchlas Samani. Bahkan, lahir gagasan untuk mendirikan pusat kajian literasi tersendiri di luar lembaga resmi yang sudah ada di lingkungan Unesa.

Semangat itu kembali digelorakan saat dies natalis ke-49 pada 19 Desember 2013. Sejumlah akademisi dan alumnus Unesa memberikan kado buku Pena Literasi, Membangun Unesa Melalui Budaya Literasi (Revka Petra, Desember 2013) kepada rektor. Hal ini tentu saja menjadi harapan besar mereka agar Unesa menjadi kampus yang berbudaya literasi dengan segala aspek dan fasilitas yang ada. 

Visioner

Pada 21 Februari 2014, pendaftaran akhir calon rektor Unesa akhirnya menjaring tiga nama. Mereka adalah Prof Warsono (FIS), Prof Nurhasan (FIK), dan Prof Yatim Riyanto (FIP). Ketiganya akan bersaing dalam menyampaikan aspirasi, visi dan misi, serta berbagai program kerja untuk periode lima tahun mendatang.

Para calon rektor ini merupakan orang-orang yang dinilai memiliki kredibilitas, kapabilitas, dan kinerja baik. Namun, di tengah arus kemajuan teknologi yang kian pesat seperti sekarang, dibutuhkan visi besar dalam mengemban kepentingan budaya bangsa.

Ketika bangsa kita terancam kehilangan identitas jati diri lantaran gencarnya budaya-budaya asing yang masuk, kearifan lokal lewat pemantapan budaya literasi memegang peran vital. Maka, siapa pun rektor Unesa mendatang, diharapkan ia punya komitmen kuat terhadap visi tersebut. Hal ini sekaligus mengembalikan kepercayaan diri masyarakat pada LPTK yang kini mulai luntur karena output yang kalah bersaing lantaran salah satunya tidak memiliki budaya literasi kuat.

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Maret 15, 2014, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: