Lebih Memilih E-Book


Catatan Must Prast

Saat Gunung Kelud batuk-batuk pada Kamis malam, 13 Februari 2014, rumah kami di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, ikut terimbas. Malam itu juga saya menerima pesan pendek dari bapak bahwa banyak warga yang langsung pergi mengungsi.

Sebetulnya, Jumat subuh saya berencana sowan ke asrama SMAN 10 Malang bersama seorang kawan. Rencana ini sudah kami persiapkan sejak meliput peresmian pembangkit listrik tenaga piko hidro oleh Wali Kota Probolinggo Hj Roekmini di SMKN 1 Probolinggo pada 11 Februari lalu.

Namun, rencana tinggal rencana. Kondisi Pujon dan Ngantang, terutama di Desa Banjarsari, cukup parah setelah terkena erupsi Kelud. Hujan abu vulkanik yang membawa serta batuan dan material lain merusak banyak atap rumah warga. 

Tak sedikit warga yang risau lantaran mesti meninggalkan ternak-ternak mereka, terutama sapi perah. Daerah Pujon dan Ngantang memang dikenal sebagai sentra penghasil susu sapi di Jawa Timur yang ikut menyuplai PT Nestle Indonesia. Sapi adalah salah satu harta paling berharga bagi petani dan peternak di Pujon-Ngantang. Maka tidaklah mengherankan jika tiga hari setelah aktivitas Kelud menurun, banyak warga yang kembali ke rumah masing-masing dan langsung mengurus ternaknya yang selamat.

Saya pun ikut cemas karena banyak buku-buku yang berada di rumah. Sebagian merupakan buku-buku jadul yang tidak lagi diperjualbelikan di pasaran. Banyak pula yang merupakan peninggalan mbah kung. Selain keluarga, bagi saya, buku-buku ini termasuk harta yang berharga.

Sejak inilah saya ingin lebih menggencarkan kembali penggunaan e-book atau digibook di berbagai instansi dan lembaga pendidikan. Sebab, selain lebih praktis, biaya e-book jelas lebih murah ketimbang buku cetak.

Perangkat untuk membacanya pun kini amat terjangkau. Permasalahannya, ini tidak semudah membalik telapak tangan di tengah mindset masyarakat yang lebih suka bentuk fisik (buku cetak). Perpustakaan digital juga belum banyak. Akses internet pun belum menyentuh seluruh daerah secara merata.

Ke depan, beberapa tahun mendatang, kemajuan teknologi yang semakin tak terelakkan menuntut kita untuk bisa berjalan seirama. Di tengah kampanye ramah lingkungan yang terus didengungkan berbagai pihak, pemanfaatan e-book/digibook mesti mendapat dukungan.

Bayangkan, untuk 200 buku kita butuh satu almari kecil. Padahal, hanya dengan satu gadget, ratusan bahkan ribuan e-book bisa kita baca dan nikmati kapan saja. Seandainya saja ada buku-buku jadul milik saya tadi ada versi e-book-nya dan bisa diunduh dengan mudah, tentu saja saya tak perlu cemas.

Surabaya, 18 Februari 2014

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Februari 18, 2014, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: